Yogyakarta (Riaunews.com) – Jabatan fungsional dosen, khususnya guru besar, dinilai sebagai faktor penting dalam menentukan mutu dan peringkat perguruan tinggi di berbagai pemeringkatan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Yayasan Mataram Yogyakarta, Prof. Dr. Mahfud MD, dalam acara Silaturahmi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V (LLDikti V) di Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Kamis (10/7).
Acara yang berlangsung di lingkungan kampus UWM ini dihadiri oleh Rektor UWM Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., para wakil rektor, dekan, ketua program studi, kepala lembaga penjaminan mutu, serta dosen. Turut hadir pula staf Humas dan Sumber Daya Perguruan Tinggi (SDPT) dari LLDikti Wilayah V.
Prof. Mahfud menekankan pentingnya dorongan kolektif dalam pencapaian jabatan fungsional. “Untuk mencapai hal ini akan kita dorong bersama-sama,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UWM, Prof. Edy Suandi Hamid, menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan dukungan dari LLDikti V serta Yayasan Mataram Yogyakarta. Ia menyebutkan bahwa kegiatan ini menjadi bekal penting bagi para dosen untuk meraih jabatan fungsional yang lebih tinggi dan mendorong peningkatan akreditasi program studi.
“Acara ini merupakan pembekalan supaya para dosen memiliki jabatan fungsional yang lebih tinggi dan peningkatan akreditasi agar program studi di UWM ada yang memiliki akreditasi Unggul,” tutur Prof. Edy, yang juga mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia.
Prof. Edy mengungkapkan, saat ini lebih dari 20 persen dosen di UWM telah bergelar doktor, melebihi rata-rata nasional. “Ada 17 orang yang masih menempuh studi S3. Jika semua lulus, maka persentase dosen S3 di UWM akan mencapai 50%,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala LLDikti Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., menegaskan pentingnya silaturahmi antara LLDikti dan perguruan tinggi swasta (PTS) untuk memperkuat komunikasi dan sinergi.
“Kerjasama dan sinergi antar PTS se-DIY sebagai implementasi joint resources terbangun dengan baik dalam 99 Memorandum of Understanding (MoU),” ungkap Prof. Setyabudi.
Ia juga menyampaikan bahwa mayoritas mahasiswa PTS di DIY, yakni sekitar 70 persen, berasal dari luar daerah. Hal ini, menurutnya, tak lepas dari faktor akreditasi, kualitas dosen, dan publikasi ilmiah. “Animonya karena akreditasi, lalu melihat dosennya, termasuk publikasinya. Maka dosen harus meningkatkan kualitasnya,” jelasnya.
Prof. Setyabudi menekankan pentingnya hilirisasi dalam riset. “Ide riset sebaiknya sampai hilirisasi, jangan hanya berhenti di publikasi. Jika riset diarahkan untuk industrialisasi, maka akan didapatkan novelty produk dan novelty proses,” pungkasnya.







Komentar