Satu Ikatan

Cerpen108 Dilihat

Oleh: Ummi Lia

Tak lama setelah Nina dan mbak Yanti mondar-mandir menyiapkan berbagai menu hidangan untuk acara buka bersama keluarga sore ini, Pakde Arya dan istrinya pun datang. Beberapa menit selanjutnya anggota keluarga besar Nina yang lain semakin berdatangan mengucapkan salam dan memasuki rumahnya.

“Lho, anakmu ini sudah kelas berapa sekarang, Yan?” Tanya bude Arin pada mbak Yanti.

“Sampun kelas 3 SD,” jawab Mbak Yanti sambil tersenyum ringan.

Oh, nggak terasa sudah besar, ya..” Ujar bude Arin.

Mbak Yanti mengangguk dan berkata, ” Enggeh, tidak terasa saya juga sudah mulai tua, Bude.”

“Oalah, ya tidak apa-apa, yang penting sudah punya prajurit,” kata bude Arin. “Yang gawat itu Nina! Kok malah belum punya gandengan suami, ora kepingin kawin, ta?” sindir si bude Arin sambil mencolek pinggang Nina.

Nina pun hanya tersenyum malu dan menundukkan kepala.

“Ya, ayolah Nin kamu sudah waktunya kawin lho, Nduk! Lusi yang baru lulus SMA saja sudah laku dilamar pacarnya,”tambah bude Zakia berkomentar.

Nina makin menunduk. Senyuman tipisnya seperti isi sakit hati yang ia sembunyikan. Ia merasa usia panjangnya yang sudah mendekati kepala tiga memang sangat sepi dari harapan romantis yang halal.

“Butuh panitia mak comblang, ta?,” Sindir bude Arin lagi.

Nina meringis. Rasa bahagia berjumpa keluarga berubah menjadi kecewa. Ia merasa ditusuk sindiran yang melemahkan isi hatinya.

Apalagi, jika Nina teringat lagi dengan penolakan keras orang tuanya terhadap tawaran ta’aruf seorang kakak lelaki teman kerjanya lima tahun lalu. Orang tua yang seharusnya menjadi panitia mak comblang jodoh anaknya justru menjadi penghalang. Alasannya, hanya karena mereka tidak rela memiliki menantu yang tidak sealiran Islam.

Padahal, Nina sebenarnya sudah cukup tertarik dengan tawaran ta’aruf tersebut. Sebab si lelaki itu dikenal sebagai muazin yang rajin mengumandangkan adzan dan berjamaah di masjid kota. Oleh karena itu, sangatlah mungkin saran Rasulullah saw. untuk membangun rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah dengan lelaki muda sholih itu bisa tercapai.

“Alhamdulillah, wes maghrib…,” celetuk Rangga, anak mbak Yanti.

Semua anggota keluarga berhenti membaca tahlil. Mereka ramai menikmati takjil di tengah adzan yang berkumandang. Lalu, bergegas menuju masjid di dekat rumah Nina untuk menunaikan sholat maghrib.

Sementara Nina memilih untuk masuk dalam kamarnya agar bisa menjawab adzan sambil meneguk segelas air putih untuk memendam panas hati. Kemudian dia berdoa dalam jangka waktu istimewa, antara jarak setelah adzan dan sebelum iqomah.

Nina menengadahkan tangan pada Allah, “Ya Allah, hamba mohon kepadaMu, segerakanlah datang kereta jodoh bertakwa yang dapat meyakinkan keluarga hamba tanpa aliran penghalang yang memecah belah iman.”

Pada tahun berikutnya, acara buka bersama keluarga kembali digelar. Wajah Nina yang berkerudung lebar dan memakai gamis longgar tampak masih agak malu berjalan di samping pasangannya.

“Alhamdulillah datang si manten anyar, lho!” Kata Bude Arin, sang tuan rumah buka bersama kala itu.

Beberapa anggota keluarga lain yang sudah duduk dalam rumah pun segera penasaran. Ada yang mengangkat kepalanya dari balik jendela. Ada pula yang segera melejitkan badan ke teras rumah memberi sambutan.

“Assalamualaikum”, salam Bukhari, suami Nina.

“Waalaikumsalam, monggo-monggo silahkan masuk,” ujar pakde Arya.

Nina dicolek-colek saudaranya yang berkata, “gimana udah terasa nikmatnya, kan?”

Nina menunduk dan tersenyum tipis. Rasa malunya masih dilengkapi nuansa bahagia bukan kecewa seperti tahun sebelumnya.

Ia sangat bersyukur pada Allah yang telah mengabulkan doanya. Beberapa hari sebelum ramadhan tahun ini, Nina baru saja berubah status dari nona dewasa menjadi nyonya muslimah. Bukhari, sang tetangga lelakinya telah berhasil membuat ayahnya mau berijab qobul di atas mimbar pernikahan.

Tak ada halangan aliran keagamaan. Sebab, Ayah Nina sudah sering melihat Bukhori datang ke masjid kampung untuk menunaikan sholat dan mengikuti kajian Islam.

Walaupun sebenarnya, tanpa ayah Nina ketahui juga, Bukhori tak pernah menahan diri untuk masuk dalam masjid suci lainnya, baik untuk sholat maupun menimba ilmu Islam.

Sebab, bagi Bukhori masjid adalah rumah Allah Swt. yang harus didatangi bagi para lelaki beriman. Tali ikatan pun bukanlah untaian golongan yang melilit sebagian orang, namun membuat sakit secara berkelanjutan.

Harus ada ukhwah Islam kuat dan murni yang mencakup semua muslim. Sehingga, kehangatan hubungan akan dirasakan, rahmat dan berkahNya pun dapat digenggam.

“Si manten anyar salat di sini atau pulang ke rumah sendiri?” Tanya budhe Arin.

“Enggeh, jamaah disini saja. Nanti pulangnya setelah sholat tarawih, Bude,” jawab Bukhori.

Nina pun mengangguk setuju. Sebab ia juga yakin bahwa yang dicari saat ramadhan adalah keberkahan bukan keterikatan aliran dan hubungan kekeluargaan. Perbedaan jumlah rakaat tarawih bukan syarat sah yang harus dipenuhi. Namun, kekhusyukan justru yang menjadi kunci.

Komentar