Pekanbaru (Riaunews.com) – Upaya Jorge Martin untuk mengakhiri kontraknya lebih awal dengan Aprilia menjadi salah satu isu terbesar MotoGP 2025. Juara dunia asal Spanyol itu berniat hengkang di akhir musim dengan berpegang pada klausul performa dalam kontraknya, langkah yang ditolak keras oleh pabrikan asal Noale.
Niat tersebut mencuat di tengah masa sulit Martin yang dilanda cedera serius, termasuk patah tulang rusuk dan pneumotoraks usai kecelakaan di Qatar. Dalam dokumenter From Heaven to Hell di kanal YouTube MotoGP, Martin mengaku mulai meragukan masa depannya, baik sebagai pembalap maupun secara personal, akibat rentetan cedera tersebut.
CEO Aprilia Massimo Rivola mengungkapkan bahwa manajer Martin, Albert Valera, secara langsung menyampaikan keinginan hengkang itu dengan membawa tawaran besar dari Honda. Rivola bahkan terbang ke Madrid untuk memastikan langsung sikap Martin, yang kala itu menyatakan ingin pergi, namun ditolak oleh Aprilia karena klausul dinilai belum aktif.
Situasi semakin panas saat Aprilia justru meraih kemenangan lewat Marco Bezzecchi di Silverstone. Rivola memanfaatkan momentum tersebut untuk mengirim pesan terbuka kepada Martin bahwa Aprilia memiliki motor yang kompetitif untuk meraih kemenangan bersamanya.
Perselisihan ini menarik perhatian penyelenggara. CEO MotoGP Carmelo Ezpeleta bahkan mengancam tidak akan mengizinkan Martin tampil pada musim 2026 jika konflik kontrak tidak diselesaikan, baik melalui kesepakatan damai maupun jalur hukum.
Akhirnya, di Brno, Jorge Martin mengakhiri spekulasi dengan mengonfirmasi akan menghormati kontraknya bersama Aprilia hingga berakhir musim depan. Keputusan ini menutup sementara drama besar, menjelang 2026 yang diprediksi menjadi musim penuh pergerakan besar di bursa pembalap MotoGP.







Komentar