Oleh Suryani, S.AP
Pernahkah kita mengikuti suatu tren hanya karena hampir semua teman melakukannya? Mengikuti gaya berpakaian, cara berpikir, hingga standar kebahagiaan yang sedang ramai di media sosial. Tanpa disadari, kita mulai menjadikan pandangan orang lain sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Inilah pentingnya Point of View (PoV) atau sudut pandang. Sebab, cara seseorang memandang kehidupan akan memengaruhi pilihan, sikap, bahkan arah hidupnya. Lantas, dari mana PoV yang kita yakini selama ini berasal?
PoV Menjadi Identitas Anak Muda
Anak muda sering kali memiliki PoV sendiri yang berbeda dengan orang tua maupun gurunya. Perbedaan tersebut terlihat dalam berbagai hal, mulai dari cara berpakaian, menentukan pergaulan, memandang kesuksesan, hingga memaknai kebahagiaan.
Bagi sebagian anak muda, PoV bukan sekadar cara pandang, melainkan sudah menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup. Apa yang mereka yakini dapat memengaruhi keputusan sehari-hari. Terlebih, media sosial membuat berbagai pandangan mudah tersebar dan menjadi tren di kalangan remaja.
Akibatnya, sesuatu yang sedang viral sering kali dianggap menarik, keren, bahkan layak diikuti tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan apakah hal tersebut benar dan membawa kebaikan.
Ketika PoV Dibentuk oleh Kapitalisme
Masa muda merupakan fase pencarian jati diri. Pada fase ini, seseorang cenderung ingin diakui, diterima, dan dianggap relevan oleh lingkungan pergaulannya. Kondisi tersebut membuat anak muda rentan mengikuti pandangan yang sedang populer.
Media sosial semakin memperkuat pengaruh tersebut. Berbagai konten yang muncul bukan hanya menyajikan hiburan, tetapi juga membentuk standar tentang kecantikan, kebahagiaan, kesuksesan, dan kehidupan ideal. Algoritma media sosial bahkan dapat membuat seseorang terus-menerus terpapar konten dengan pola pandangan serupa.
Dalam perspektif ideologi, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan kapitalisme global. Anak muda merupakan kelompok konsumen potensial yang memiliki daya beli dan pengaruh terhadap tren. Berbagai industri memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk sekaligus membentuk keinginan dan gaya hidup.
Lihat saja bagaimana tren kosmetik, kuliner, traveling, healing, hingga outfit terus bermunculan. Anak muda didorong untuk membeli produk tertentu, mengunjungi tempat tertentu, dan mengikuti standar kehidupan yang sedang populer. Bahkan, kebahagiaan seolah-olah harus ditunjukkan melalui penampilan, pengalaman liburan, dan kepemilikan materi.
Di sinilah PoV sekuler liberal menemukan ruangnya. Pandangan hidup yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan serta mengagungkan kebebasan individu dapat mendorong seseorang menjadikan kesenangan pribadi sebagai ukuran utama kebahagiaan. Akibatnya, budaya materialistik dan konsumtif semakin menguat.
Jika tidak memiliki pegangan yang kokoh, anak muda bisa terjebak dalam pola hidup yang mengejar pengakuan manusia, bukan mencari keridaan Allah. Mereka sibuk membangun citra diri di hadapan manusia, tetapi kurang memperhatikan bagaimana Allah menilai kehidupannya.
Membangun PoV Berlandaskan Akidah Islam
Islam memiliki sudut pandang yang khas dalam memandang kehidupan. Seorang muslim tidak menjadikan tren, popularitas, ataupun kepuasan materi sebagai standar utama dalam menentuukan pilihan. Seluruh aktivitas kehidupan diarahkan untuk meraih rida Allah Swt.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 162:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan seorang muslim harus berorientasi kepada Allah. Artinya, PoV seorang muslim tidak boleh dibangun semata-mata berdasarkan keinginan hawa nafsu atau standar yang diciptakan lingkungan.
Anak muda muslim harus disadarkan bahwa tidak semua keinginan yang muncul dalam diri benar-benar lahir dari kebutuhan pribadi. Sebagian dapat terbentuk karena paparan iklan, tren, dan strategi pemasaran yang terus membangun keinginan konsumen. Karena itu, mereka perlu memahami bagaimana sistem kapitalisme bekerja dalam membentuk pola konsumsi dan gaya hidup.
Selain itu, viral bukan berarti benar. Populer bukan berarti layak diikuti. Anak muda muslim harus memiliki kemampuan berpikir kritis, selektif, dan waspada dalam menerima informasi maupun tren. Setiap pandangan perlu ditimbang dengan akidah dan syariat Islam, bukan sekadar mengikuti apa yang disukai banyak orang.
Lebih dari itu, pembentukan PoV Islam tidak cukup hanya mengandalkan nasihat individu. Dibutuhkan sistem pendidikan dan kehidupan yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan. Dalam sistem Islam, generasi muda dibina agar memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah), yakni pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah Islam.
Dengan pembinaan tersebut, anak muda tidak hanya dipersiapkan menjadi pribadi yang cerdas dan produktif, tetapi juga memiliki kesadaran politik Islam, kepedulian terhadap umat, serta cita-cita besar membangun peradaban Islam yang mulia.
Karena itu, sudah saatnya anak muda menyadari bahwa PoV bukan sekadar persoalan tren atau gaya hidup. PoV adalah landasan yang menentukan arah perjuangan dan tujuan kehidupan. Jangan sampai masa muda habis untuk mengejar standar kebahagiaan yang diciptakan pasar, sementara tujuan hakiki kehidupan justru terlupakan.
Sebab, PoV yang benar akan mengantarkan seseorang pada jalan hidup yang benar. Bukan sekadar menjadi bagian dari tren zaman, tetapi menjadi generasi yang hidup dengan visi Islam dan berjuang meraih rida Allah Swt. Wallahua’lam bishowab.







Komentar