Dies Natalis ke-44, UWM Yogyakarta Ziarah ke Makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Daerah28 Dilihat

Yogyakarta (Riaunews.com) – Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta melaksanakan ziarah ke makam Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-44 UWM.

Ziarah diikuti puluhan peserta yang terdiri atas Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Ketua Program Studi, dosen, serta mahasiswa baru UWM. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa dan perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai salah satu pendiri UWM sekaligus meneguhkan nilai-nilai yang menjadi landasan berdirinya perguruan tinggi tersebut.

UWM didirikan pada 7 Oktober 1982 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama KGPH Mangkubumi yang kini menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kedua tokoh tersebut tercatat dalam dokumen resmi UWM sebagai pendiri universitas yang hingga kini terus mengembangkan pendidikan tinggi berbasis budaya.

Dalam sambutannya sebelum ziarah, Rektor UWM Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. mengatakan ziarah merupakan agenda rutin universitas. Namun, tahun ini menjadi momentum berbeda karena untuk pertama kalinya selama masa kepemimpinannya kegiatan tersebut dilaksanakan secara langsung di lokasi makam.

“Ini kegiatan kita yang rutin, ziarah kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kita mengunjungi makam beliau untuk mengenang peran-peran beliau sehingga berdiri Universitas Widya Mataram sampai usia 44 tahun,” ujar Prof. Edy.

Ziarah Jadi Momentum Refleksi Sivitas Akademika

Prof. Edy mengatakan ziarah tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengenang tokoh pendiri UWM, tetapi juga sarana refleksi bagi seluruh sivitas akademika. Menurutnya, kegiatan tersebut mengingatkan manusia tentang asal-usul, tujuan kehidupan, serta amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

“Dalam filosofi Widya Mataram, dalam filosofi Kesultanan Jogja, dan juga pemerintah Jogja, ada sangkan paraning dumadi. Kita mengingat asal-usul dan tujuan kita sampai yaumil akhir nanti,” tuturnya.

Ia mengingatkan seluruh sivitas akademika UWM memiliki amanah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Karena itu, nilai-nilai yang diwariskan para pendiri perlu diwujudkan dalam kehidupan akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Edy juga kembali menyampaikan pesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika UWM didirikan pada 7 Oktober 1982. Menurutnya, UWM sejak awal tidak sekadar dimaksudkan untuk menambah jumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, tetapi menghadirkan alternatif pendidikan tinggi berkualitas untuk membentuk calon intelektual yang bermanfaat bagi bangsa dengan karakter yang tetap berakar pada jati diri bangsa dan budaya Yogyakarta.

“Pesan-pesan itu harus kita pahami, terutama adik-adik mahasiswa baru. Apalagi dosen dan pendidik, kita harus memahami filosofi itu,” kata Prof. Edy.

UWM Teguhkan Pendidikan Berbasis Budaya

Prof. Edy menyebut sejumlah nilai yang relevan untuk terus dihidupkan dalam penyelenggaraan pendidikan di UWM, antara lain sangkan paraning dumadi, hamemayu hayuning bawana, serta greget, sengguh, ora mingkuh. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari karakter UWM sebagai kampus berbasis budaya.

“Kalau kita melaksanakan pesan-pesan itu, insyaallah Widya Mataram ini bisa mewujudkan cita-cita Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX,” ujarnya.

Kegiatan ziarah kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Peserta yang mengikuti prosesi menuju makam melaksanakan ziarah sesuai tata cara dan ketentuan yang berlaku di Kompleks Makam Imogiri, sementara peserta lainnya mengikuti doa dari lokasi yang diperbolehkan.

Ziarah tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-44 UWM yang mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan Mewujudkan UWM Unggul dan Berkarakter”.

Melalui momentum tersebut, UWM meneguhkan komitmen untuk terus mengembangkan pendidikan tinggi yang unggul dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan warisan pemikiran para pendirinya.

Bagi mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan, ziarah menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah dan filosofi yang melandasi keberadaan UWM. Pendidikan di UWM tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap jati diri budaya.

Komentar