Bantul (Riaunews.com) – Menghadapi persaingan pasar kerja dan tingginya angka pengangguran, generasi muda didorong mengubah pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan kewirausahaan bertema “Muda Berkarya, Bisnis Terencana: Wujudkan Ide Kreatif dalam Satu Lembar Business Model Canvas” di Gesikan, RT 04, Panggungharjo, Sewon, Bantul.
Kegiatan tersebut diikuti 11 anggota organisasi pemuda setempat dengan menghadirkan Utami Tunjung Sari, S.E., M.Sc., Ketua Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, sebagai narasumber utama. Pelatihan bertujuan membekali peserta dengan pola pikir dan keterampilan dasar untuk mengembangkan ide kreatif menjadi usaha yang terencana.
Utami mengatakan masa muda menjadi waktu yang tepat untuk mengembangkan keterampilan kewirausahaan sebagai bekal membangun kemandirian ekonomi. Menurutnya, pemuda perlu memiliki entrepreneurial mindset yang mendorong mereka untuk berpikir kreatif, inovatif, sekaligus berani mengambil risiko.
Peserta Belajar Susun Business Model Canvas
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan konsep Business Model Canvas (BMC) sebagai alat untuk merancang dan mengembangkan model bisnis. BMC merupakan metode visual yang membantu pelaku usaha memetakan cara sebuah bisnis menciptakan, menyampaikan, dan memperoleh nilai.
“Sederhananya, BMC adalah peta yang menggambarkan bagaimana sebuah bisnis bekerja,” jelas Utami.
Ia menjelaskan BMC memetakan tiga alur utama dalam bisnis, yakni menciptakan nilai manfaat bagi pelanggan (create value), menyampaikan produk atau jasa kepada pelanggan (deliver value), serta mengubah nilai tersebut menjadi pendapatan (capture value).
Untuk memudahkan pemahaman, Utami menggunakan studi kasus “GreenBite”, sebuah bisnis makanan sehat. Melalui studi kasus tersebut, peserta belajar menghubungkan masalah spesifik pelanggan dengan solusi yang sesuai.
Dorong Pemuda Rintis Bisnis
Peserta kemudian mempraktikkan penyusunan BMC secara bertahap. Mereka mempelajari cara menentukan segmen pelanggan, proposisi nilai, saluran distribusi (channels), hubungan pelanggan, arus pendapatan, sumber daya utama, aktivitas utama, kemitraan, hingga struktur biaya.
Pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mendorong peserta mulai mengembangkan ide usaha yang dapat diterapkan di lingkungan mereka.
“Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan ini, diharapkan pemuda di wilayah Gesikan dapat mulai membangun kemandirian ekonomi, mengurangi ketergantungan pada lapangan kerja formal, dan merintis usaha inovatif yang terencana dengan matang,” tutup Utami.







Komentar