Pekanbaru (Riaunews.com) – Enam tahun setelah pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas para pengrajin tenun dan banjir merusak seluruh perlengkapan produksi di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru, kelompok penenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang kini kembali bangkit.
Kelompok yang dipimpin Salma Betty (50) itu kembali produktif setelah mendapat pendampingan dan dukungan dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan Crafting.
Salma masih mengingat bagaimana pandemi menghentikan aktivitas para penenun. Kondisi semakin berat ketika banjir melanda Rumbai setahun kemudian hingga merusak alat tenun, benang, dan berbagai perlengkapan produksi.
Namun kondisi tersebut tidak mematahkan semangat para pengrajin. Dengan dukungan PHR, mereka kembali menghidupkan aktivitas menenun sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Dukungan tersebut menjadi angin segar bagi kami untuk kembali berkarya dan menghidupkan potensi lokal yang sempat nyaris tenggelam,” kata Salma Betty.
PHR mengajak kembali para penenun yang sempat vakum, menyelamatkan sebagian alat tenun yang masih layak digunakan, memperbaiki fasilitas produksi, menyediakan benang, serta memberikan pendampingan agar usaha para pengrajin dapat berjalan secara berkelanjutan.
Saat ini Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang telah memiliki 15 anggota aktif yang terus mengembangkan kemampuan melalui pelatihan rutin.
Pelatihan Berkelanjutan dan Target Produksi
Sejak Juni 2026, para anggota mengikuti pelatihan menenun dua kali dalam sepekan. Hingga kini, tujuh dari total 10 sesi pelatihan telah dilaksanakan dengan tingkat kehadiran anggota yang tetap tinggi.
Menurut Salma, kegiatan menenun bukan hanya menjadi sarana melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para perempuan di lingkungan mereka.
“Menenun menjadi ruang bagi kami para ibu untuk terus berkarya dan lebih produktif. Setiap kain yang nantinya dihasilkan membawa harapan besar, karena selain menjadi kebanggaan, juga membuka peluang untuk meningkatkan perekonomian kami,” ujarnya.
Melalui pendampingan tersebut, kelompok penenun juga mulai menerapkan standar produksi. Setiap alat tenun ditargetkan mampu menghasilkan 15 lembar kain berkualitas yang tetap mempertahankan identitas budaya Melayu.
Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
“Kebangkitan aktivitas tenun di Limbungan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian warisan budaya di tengah arus modern,” kata Iwan.
Menurutnya, kolaborasi tersebut telah menghidupkan kembali aktivitas para penenun yang sebelumnya terhenti. Alat tenun yang sempat tidak digunakan kini kembali beroperasi dan menjadi ruang produktif bagi para ibu sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Melayu di Kota Pekanbaru.
