BBKSDA Riau Amankan Anak Harimau Sumatera yang Sempat Memangsa Ternak Warga

Inhil, Lingkungan227 Dilihat

Indragiri Hilir (RIaunews.com) – Balai Besar KSDA Riau bersama aparat dan masyarakat berhasil mengamankan seekor anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang sebelumnya dilaporkan beberapa kali memangsa ternak warga di wilayah Tanjung Pulai. Satwa dilindungi tersebut kini telah dievakuasi untuk menjalani perawatan serta pemantauan kesehatan.

Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengatakan kemunculan harimau di sekitar permukiman warga sudah terpantau sejak beberapa waktu terakhir dan sempat menimbulkan konflik dengan masyarakat.

“Satwa ini sudah beberapa kali dilaporkan muncul di sekitar permukiman dan memangsa ternak warga. Tim langsung melakukan mitigasi konflik dengan pemasangan kandang jebak di lokasi yang sering dilaporkan,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).

Berhasil Ditangkap Melalui Kandang Jebak

Peristiwa terbaru terjadi pada Senin (9/3/2026) sekitar pukul 20.00 WIB saat harimau kembali memangsa kambing milik warga di dalam kandang di sekitar Simpang Tiga menuju Desa Pulau Muda. Lokasi tersebut dalam beberapa bulan terakhir memang kerap dilaporkan menjadi titik kemunculan satwa liar.

Menindaklanjuti kejadian itu, tim BBKSDA Riau bersama masyarakat memasang kandang jebak pada Selasa (10/3/2026) sekitar pukul 11.00 WIB dengan memanfaatkan sisa ternak yang dimangsa sebagai umpan. Pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB, tim yang melakukan monitoring mendapati harimau tersebut telah masuk ke dalam kandang jebak sehingga berhasil diamankan.

Selanjutnya pada Rabu (11/3/2026), tim mengevakuasi satwa tersebut dengan memindahkannya ke kandang angkut melalui prosedur pembiusan yang dilakukan dokter hewan.

Dari hasil pemeriksaan awal, satwa tersebut diketahui merupakan anak harimau betina dengan perkiraan usia kurang dari satu tahun. Kondisi kesehatannya secara umum baik dan tidak ditemukan luka, meski kondisi fisiknya terlihat agak kurus.

Saat ini, harimau tersebut ditempatkan di pusat penyelamatan satwa milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo untuk menjalani pemantauan serta pemulihan kondisi sebelum diputuskan langkah selanjutnya.

Supartono menambahkan, setelah proses pemantauan kesehatan selesai, pihaknya akan mempertimbangkan kemungkinan melepasliarkan kembali satwa tersebut ke habitat alaminya. Ia juga mengapresiasi dukungan masyarakat, TNI, Polri, serta perusahaan di sekitar lokasi yang turut membantu proses mitigasi konflik satwa liar.

Komentar