Rekonstruksi Gaza: Antara Narasi Perdamaian dan Makar Kekuasaan

Opini263 Dilihat

Oleh  Sulis Setiawati,S.Pd

Gaza hari ini adalah luka terbuka bagi nurani dunia dan cermin nyata bagaimana kezaliman dipelihara oleh kekuatan global. Seruan sejumlah pejabat Israel untuk menghancurkan Gaza dan mengusir paksa penduduknya bukan lagi sekadar retorika perang, melainkan pengakuan terbuka atas niat penghapusan sebuah negeri dan bangsanya. Di hadapan tragedi ini, umat manusia sedang diuji, apakah akan berpihak pada nilai keadilan atau tunduk pada kekuatan yang zalim.

Ironisnya, di tengah reruntuhan dan darah para syuhada, Amerika Serikat justru tampil membawa narasi rekonstruksi. Media Indonesia dalam laporan internasionalnya berjudul “Profil Jared Kushner, Menantu Donald Trump dan Arsitek Rekonstruksi Gaza” yang terbit pada 29 Januari 2025, mengungkap peran Jared Kushner sebagai figur utama di balik rencana pembangunan New Gaza.

Artikel tersebut menjelaskan bahwa proyek ini dikemas sebagai upaya pembangunan ulang, namun tidak terlepas dari kepentingan politik dan ekonomi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Lebih dari sekadar pembangunan fisik, pembentukan Dewan Perdamaian Gaza oleh Amerika Serikat menunjukkan ambisi pengendalian politik secara total. Dengan menggandeng sejumlah negara, termasuk negara Muslim, dewan ini diproyeksikan sebagai pengelola masa depan Gaza.

Namun sejarah panjang intervensi Barat di negeri-negeri Muslim mengajarkan bahwa lembaga semacam ini sering kali menjadi alat legitimasi penjajahan dengan wajah yang lebih halus dan diplomatis.

Dalam konteks ini, New Gaza patut dibaca sebagai upaya menghapus jejak genosida dan menutup kejahatan kemanusiaan dengan gedung, investasi, dan jargon perdamaian. Ketika akar kezaliman tidak diselesaikan dan penjajah tetap dibiarkan bercokol, maka pembangunan hanya menjadi tirai yang menutupi penderitaan rakyat. Perdamaian yang lahir dari tangan para penindas sejatinya adalah bentuk baru dari penguasaan.

Gaza Bukan Sekedar Konflik Wilayah 

Islam memandang persoalan Gaza bukan semata konflik wilayah, tetapi masalah akidah dan amanah umat. Palestina adalah tanah yang diberkahi dan menjadi bagian dari kehormatan kaum Muslimin. Karena itu, Islam melarang umatnya menyerahkan loyalitas dan kepemimpinan urusan kaum Muslim kepada pihak yang memusuhi Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Kaum Muslim itu satu kesatuan, darah mereka sama nilainya dan yang lemah dilindungi oleh yang kuat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud nomor 2751 dan dinilai shahih oleh para ulama hadis.

Solusi Islam tidak berhenti pada empati dan doa, meskipun keduanya sangat penting. Islam menawarkan penerapan ajarannya secara kaffah dalam kehidupan, termasuk dalam politik internasional. Dengan kepemimpinan Islam yang berlandaskan wahyu, umat memiliki mekanisme nyata untuk melindungi negeri-negeri Muslim, menjaga kehormatan darah kaum beriman, serta menghadang makar politik global yang merugikan umat.

Maka membela Gaza sejatinya adalah panggilan iman, bukan sekadar isu kemanusiaan musiman. Umat Islam dituntut untuk cerdas membaca skenario global dan tidak terbuai oleh narasi rekonstruksi yang menutup penjajahan. Hanya dengan kembali kepada Islam secara menyeluruh, umat mampu berdiri tegak, bersatu, dan memperjuangkan pembebasan Palestina sebagai bagian dari amanah besar menjaga keadilan di muka bumi.

Komentar