Jakarta (Riaunews.com) – Center of Reform on Economics (Core) mengestimasi biaya pemulihan infrastruktur fisik di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mencapai lebih dari Rp 77,4 triliun. Estimasi ini disampaikan dalam riset Core Insight bertajuk Konsekuensi Ekonomi di Balik Duka Sumatera.
Dalam laporan tersebut, Core menjelaskan bahwa perhitungan biaya didasarkan pada data kerusakan infrastruktur fisik yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 Desember 2025. Angka ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan alokasi dana pemulihan yang disiapkan pemerintah pusat sebesar Rp 60 triliun.
Core menilai dana Rp 60 triliun tidak akan mencukupi untuk memulihkan wilayah terdampak di tiga provinsi tersebut. Selain itu, angka estimasi Rp 77,4 triliun masih berpotensi lebih rendah dari kebutuhan riil karena kondisi di lapangan yang terus berkembang.
Lebih lanjut, Core mengungkapkan bahwa estimasi tersebut belum memasukkan kerugian non-fisik akibat terganggunya aktivitas ekonomi lokal. Dampak tersebut meliputi menurunnya produktivitas tenaga kerja, lumpuhnya perdagangan di pasar tradisional dan ritel modern, terhambatnya produksi UMKM, serta penurunan kualitas kesehatan masyarakat.
Kerugian non-fisik juga mencakup meningkatnya trauma psikologis dan tingkat stres masyarakat akibat tekanan batin pascabencana. Core menilai, biaya pemulihan non-fisik berpotensi sama besarnya dengan biaya perbaikan infrastruktur fisik.
Selain itu, dampak serius juga dirasakan rumah tangga dan anak-anak. Core menyoroti perlunya biaya besar untuk mengejar ketertinggalan pendidikan anak dan remaja, terutama jika pemulihan infrastruktur, distribusi guru, tenaga kesehatan, dan relawan tidak berjalan optimal, yang berisiko memengaruhi kualitas kognitif anak-anak di daerah terdampak dalam jangka panjang.







Komentar