Pekanbaru (Riaunews.com) – Hubungan manusia dan kucing telah terjalin sejak sekitar 10.000–12.000 tahun lalu. Hingga kini, kucing menjadi salah satu hewan peliharaan paling populer, termasuk di Indonesia. Selain menggemaskan, memelihara kucing juga memberikan berbagai manfaat yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Sejumlah penelitian menunjukkan, memelihara kucing dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Efek menenangkan dari interaksi dengan kucing membantu menurunkan denyut jantung dan tekanan darah. Studi dalam Journal of Vascular and Interventional Neurology bahkan mencatat risiko kematian akibat serangan jantung dan stroke lebih rendah pada pemilik kucing.
Anggapan bahwa kucing selalu memicu alergi tidak sepenuhnya benar. Paparan terhadap kucing sejak usia dini justru berpotensi mengurangi risiko alergi di kemudian hari. Pemilik kucing juga dilaporkan lebih jarang mengalami gangguan kesehatan ringan seperti sakit kepala dan demam alergi.
Interaksi sederhana seperti membelai kucing dapat menurunkan tingkat stres. Aktivitas ini memicu pelepasan oksitosin atau hormon cinta, yang menimbulkan rasa tenang. Penelitian menunjukkan kadar kortisol, hormon pemicu stres, cenderung lebih rendah pada pemilik kucing.
Selain itu, kucing dapat membantu mengatasi rasa kesepian. Studi pada 2022 menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan memiliki tingkat isolasi sosial yang lebih rendah. Kehadiran kucing juga membantu meringankan gejala depresi, terutama pada masa sulit.
Manfaat lainnya terlihat pada individu dengan spektrum autisme. Penelitian tahun 2023 mengungkapkan anak autis yang memelihara kucing menunjukkan perilaku lebih prososial, lebih memahami emosi orang lain, serta lebih mudah berbagi. Hal ini menegaskan bahwa kucing bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi juga sahabat yang berdampak positif bagi kesehatan manusia.







Komentar