Surabaya (Riaunews.com) – Bencana banjir dan longsor besar yang melanda Sumatera menjadi peringatan keras bagi seluruh daerah di Indonesia yang kini berada dalam ancaman siklon tropis baru. Peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS Surabaya, Dr Amien Widodo, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologis yang semakin sering terjadi.
Dr Amien menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem dari Siklon Senyar memperburuk kondisi topografi Indonesia yang rapuh akibat kerusakan hutan berkepanjangan. “Curah hujan ekstrem yang dibawa Siklon Senyar berinteraksi dengan kondisi topografi bergunung-gunung serta kerusakan hutan yang telah berlangsung puluhan tahun,” ujarnya, Jumat (5/12/2025). Interaksi tersebut menyebabkan tanah tidak stabil dan memicu banjir bandang yang membawa lumpur, batu, serta kayu gelondongan.
Ia menyebut tragedi Sumatera sebagai dasar penting untuk menanggapi peringatan dini BMKG terkait munculnya bibit siklon tropis baru di selatan Pulau Jawa. Potensi dampaknya meluas hingga Jawa, Bali, NTT, dan Timika, Papua. “Peringatan ini harus segera direspons dengan langkah mitigasi nyata mengingat tragedi Sumatera menjadi bukti bahwa keterlambatan persiapan dapat berakibat fatal,” katanya.
Data Puslit MKPI ITS dan BPBD Jawa Timur menunjukkan tingginya kerentanan wilayah. BPBD telah memetakan 14 potensi bencana dengan risiko banjir bandang dan longsor di lebih dari 30 kabupaten/kota, seperti Pacitan, Ponorogo, Malang, hingga Banyuwangi. Kondisi ini membuat kewaspadaan dan persiapan dini menjadi kebutuhan mendesak.
Dr Amien menegaskan bahwa upaya pengurangan risiko bencana tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat adalah kunci keselamatan. “Apabila masyarakat telah diberdayakan dan dibekali pengetahuan serta persediaan yang benar, mereka akan tetap dapat bertahan hidup tanpa harus menunggu bantuan eksternal,” ujarnya.
Ia mendorong adanya sinergi antara pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta untuk memperkuat ketangguhan melalui edukasi, latihan kesiapsiagaan, dan kolaborasi berkelanjutan. Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi ancaman siklon tropis maupun bencana hidrometeorologis lainnya di masa depan.







Komentar