Oleh Sulis Setiawati,S.Pd
Aktivis muslimah
Sejak konflik bersenjata pecah di Sudan pada April 2023, penderitaan rakyat di sana belum juga berakhir. Rumah-rumah hancur, layanan kesehatan lumpuh, dan jutaan jiwa terpaksa mengungsi dari tanah kelahirannya. BBC News pada 15 Oktober 2025 melaporkan bahwa lebih dari sepuluh juta warga Sudan kini kehilangan tempat tinggal. Kota-kota seperti Khartoum dan El Fasher berubah menjadi puing-puing, sementara bantuan kemanusiaan sulit menembus wilayah yang terus dilanda pertempuran.
Namun yang lebih menyayat hati adalah diamnya dunia. Negara-negara besar yang sering bicara tentang kemanusiaan kini seolah menutup mata. Dunia yang mengaku beradab justru membiarkan rakyat Sudan berjuang sendirian di tengah kelaparan dan ketakutan.

Keadaan ini sangat mirip dengan apa yang terjadi di Palestina. Di Gaza, anak-anak tumbuh di bawah dentuman bom, banyak keluarga hidup tanpa listrik dan air bersih, sementara bantuan internasional sering terhambat di perbatasan.
Kedua tragedi ini menunjukkan betapa lemahnya posisi umat Islam ketika tidak memiliki satu kepemimpinan yang menaungi dan melindungi mereka. Setiap negeri Muslim sibuk dengan urusan masing-masing, padahal di hadapan Allah mereka adalah satu tubuh yang seharusnya saling menguatkan.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kaum mukmin itu seperti satu jasad. Bila satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam. Begitulah seharusnya umat Islam bersikap terhadap penderitaan saudaranya.
Dalam sejarah Islam, ada satu sistem yang mampu menyatukan umat dari berbagai bangsa dan bahasa, yaitu sistem Khilafah. Di bawah kepemimpinan seorang Khalifah, umat Islam dahulu berdiri tegak dan disegani dunia. Ketika ada negeri Muslim diserang, Khalifah segera mengirim pasukan untuk melindungi kehormatan dan nyawa kaum Muslimin.
Tidak ada satu pun wilayah Islam yang berani disentuh musuh tanpa perhitungan besar. Sistem ini bukan sekadar politik, melainkan wujud nyata penerapan Islam secara menyeluruh yang menjaga agama, jiwa, dan kehormatan manusia.
Tanpa satu kepemimpinan yang kuat, umat akan terus terpecah dan mudah dilemahkan. Dunia boleh bungkam terhadap penderitaan Sudan dan Palestina, tetapi Islam tidak pernah mengajarkan kebisuan di hadapan kezaliman. Islam memerintahkan umatnya untuk menolong sesama dan melawan penindasan dengan kekuatan yang adil di bawah naungan kepemimpinan yang satu. Inilah makna Islam kaffah yang sesungguhnya, ketika hukum Allah ditegakkan dan umat bersatu dalam keadilan dan kasih.
Sudan dan Palestina mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan umat tidak akan berhenti hanya dengan seruan kemanusiaan. Ia akan berakhir ketika umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan yang menaungi seluruh negeri Muslim, menegakkan keadilan, dan melindungi yang lemah. Karena hanya dengan Khilafah Islamiyah, dunia akan kembali merasakan keadilan dan rahmat yang sejati dari Islam.







Komentar