Perang Tarif AS–China Kian Panas, IMF Peringatkan Ancaman Serius bagi Ekonomi Global

Washington (Riaunews.com) – Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas dan menimbulkan kekhawatiran akan melambatnya ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa kebijakan proteksionis kedua negara mulai memberikan dampak nyata terhadap stabilitas perdagangan dan pertumbuhan dunia.

Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pada 14 Oktober 2025, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global turun menjadi 3,2 persen pada 2025, dari 3,3 persen tahun sebelumnya, dan diperkirakan kembali melemah menjadi 3,1 persen pada 2026. “Ada tanda-tanda kuat bahwa dampak negatif dari langkah proteksionis mulai terlihat. Risiko terhadap prospek pertumbuhan global meningkat,” tulis IMF.

Ketegangan terbaru dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif 100 persen terhadap produk asal Tiongkok. Langkah ini merupakan balasan atas kebijakan Beijing yang membatasi ekspor tanah jarang—material penting untuk industri semikonduktor, ponsel, dan kendaraan listrik. Pembatasan itu memicu kekhawatiran global karena berpotensi mengganggu rantai pasok industri teknologi.

Selain itu, situasi ekonomi AS juga diperburuk oleh penutupan sebagian pemerintahan federal, yang menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi negara tersebut. “Hubungan AS–China sangat fluktuatif. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari ini atau besok,” ujar Richard Portes, profesor ekonomi di London Business School.

Dampak perang tarif kini meluas ke berbagai negara. Uni Eropa memberlakukan tarif 50 persen terhadap baja asal Tiongkok, sementara industri baja Inggris turut terdampak meski kebijakan itu ditujukan untuk menekan Beijing. Di Meksiko, tarif terhadap mobil Tiongkok naik 50 persen setelah tekanan dari Washington. Sementara itu, India justru mempererat hubungan dengan Tiongkok usai barang-barangnya dikenai tarif tinggi oleh AS.

IMF menilai eskalasi perang tarif dapat menekan pertumbuhan di AS, Tiongkok, dan Eropa, serta mengganggu stabilitas perdagangan global. “Tiongkok memiliki kebijakan ekonomi yang konsisten, sedangkan pemerintahan Trump cenderung berubah-ubah. Ketidakpastian ini sangat besar dan berimplikasi luas pada ekonomi dunia,” tegas Portes.

Komentar