Pertemuan GBC di Kuala Lumpur hasilkan 13 point penting

Pengurangan pasukan di wilayah sengketa menjadi isu krusial

Internasional367 Dilihat

Kualalumpur (RiauNews.com) – Pertemuan General Border Committee (GBC) antara Thailand dan Kamboja  kemarin, Kamis (07/08/2025), di Kuala Lumpur, menghasilkan kesepakatan gencatan senjata meliputi 13 poin guna meredakan ketegangan dalam sengketa perbatasan kedua negara.

Kesepakatan yang dicapai di tingkat politik ini dinilai sebagai langkah penting menuju de-eskalasi. GBC menetapkan arah kebijakan umum, sementara penerjemahan komitmen tersebut ke langkah operasional di lapangan diserahkan kepada Regional Border Committee (RBC) yang akan bersidang dua pekan mendatang.

Para pemimpin militer dari kedua pihak diharapkan merampungkan langkah operasional sesuai kerangka GBC. Pelaksanaan gencatan senjata akan dipantau oleh Temporary Observer Team dari Malaysia dengan pengawasan ketat ASEAN.

Meski demikian, sejumlah isu krusial masih belum terselesaikan, termasuk pengurangan pasukan di wilayah sengketa, pembersihan ranjau darat, langkah pencegahan konfrontasi, dan penanganan wilayah yang diklaim kedua negara. Thailand juga menyoroti persoalan pemulangan jenazah prajurit yang gugur, kejahatan siber, serta pengendalian di beberapa lokasi.

Berikut 13 poin yang telah disepakati kedua belah pihak:

  1. Kesepakatan gencatan senjata di tingkat perjanjian resmi antar-pemerintah merupakan langkah politik positif yang membantu meredakan ketegangan. Intinya, ini adalah bentuk “de-eskalasi perang.”

  2. Mengingat sifat konflik internasional ini, kita tidak dapat mengharapkan GBC melakukan lebih dari capaian yang sudah ada. Peran komite ini adalah menetapkan arah dan langkah penanganan masalah.

  3. GBC adalah komite tingkat politik, sehingga kesepakatan yang dicapai di level ini berfungsi sebagai arah kebijakan dengan kerangka jelas untuk gencatan senjata.

  4. Menjelang penutupan pertemuan, pembahasan rinci diserahkan ke pertemuan komite tingkat bawah, khususnya diskusi di level militer.

  5. Untuk memastikan gencatan senjata terlaksana secara nyata, Regional Border Committee (RBC) harus menerjemahkan kebijakan yang disepakati di GBC menjadi langkah-langkah operasional.

  6. Agar RBC berfungsi efektif, para pemimpin militer dari kedua pihak harus sepakat pada kerangka yang ditetapkan GBC. Hal ini akan lebih jelas saat pertemuan RBC berlangsung dua pekan lagi untuk menentukan sejauh mana proses dapat berjalan.

  7. Meskipun gencatan senjata perlu dipantau, dalam kasus ini hanya Temporary Observer Team (IOT) dari Malaysia yang diberi tugas mengamati situasi. ASEAN perlu melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan ini.

  8. Kesepakatan GBC belum mencakup isu-isu penting ke depan seperti pengurangan kekuatan militer kedua pihak, langkah-langkah pencegahan konfrontasi militer, dan penanganan ladang ranjau di Kamboja yang berpotensi menjadi tantangan.

  9. Isu mendesak saat ini adalah memastikan gencatan senjata dijalankan sesuai kerangka yang disepakati di Malaysia. Ini tetap menjadi titik krusial untuk diawasi.

  10. Tantangan besar ke depan adalah menangani keberadaan militer di wilayah yang diklaim kedua belah pihak. Masalah ini kemungkinan harus dibahas secara rinci terkait garis perbatasan, yang menjadi tugas Joint Boundary Commission (JBC).

  11. Pertemuan GBC juga belum membahas secara tuntas sejumlah isu yang diangkat Thailand, termasuk pembersihan ranjau darat, pemulangan jenazah prajurit, masalah kejahatan siber, dan pengendalian di beberapa wilayah.

  12. Keterlibatan kekuatan eksternal besar tetap menjadi isu penting yang harus diawasi secara cermat.

Komentar