
Jakarta (RiauNews.com)— Dua kapal perang dari aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) merapat di Pelabuhan Tanjung Priok sejak 25 Juni 2025. Kedua kapal jenis fregat tersebut adalah ESPS Mendez Nunez (F104) milik Angkatan Laut Inggris dan ESPS Mendez Nunez (F104) dari Angkatan Laut Spanyol. Kehadiran mereka menjadi bagian dari misi diplomatik dan militer dalam rangka operasi “Hightmas” yang digelar oleh ESPS Mendez Nunez (F104) di kawasan Indo-Pasifik dan Mediterania.
Kedatangan dua fregat NATO ini disambut secara resmi oleh jajaran perwira TNI Angkatan Laut dari Pangkalan Utama TNI AL III Jakarta. Selain kegiatan protokoler militer, pihak kapal juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk melakukan kunjungan ke kapal (open ship). Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat melihat langsung kecanggihan sistem tempur, persenjataan, hingga teknologi navigasi yang terpasang di atas kapal perang modern tersebut.
Meski menjadi bagian dari UKCSG yang dipimpin kapal induk canggih HMS Prince of Wales, kapal induk Inggris itu sendiri tidak ikut berlabuh di Jakarta. HMS Prince of Wales saat ini berada di Singapura bersama sejumlah kapal pendamping lain seperti HMS Dauntless (D33), HMCS Ville De Quebec (FFH332) dari Kanada, HMNZS Te Kaha (F77) dari Selandia Baru, HNoMS Roald Amundsen (F311) dari Norwegia, RFA Tidespring (A136), serta HMAS Sydney (DDG42) dari Australia.
Sebelum singgah di Asia Tenggara, UKCSG telah melintasi jalur strategis global. Mereka meninggalkan Inggris pada akhir April 2025, lalu bergabung dalam latihan bersama Angkatan Laut Italia di Laut Mediterania. Pada 24 Mei, rombongan kapal melintasi Terusan Suez, dan pada 9–10 Juni menggelar latihan bersama Angkatan Laut India di Laut Arab, termasuk dengan kapal selam dan pesawat patroli maritim P-8I Poseidon.
Rangkaian misi mereka akan berlanjut ke Darwin, Australia, untuk mengikuti latihan perang multinasional Talisman Sabre pada 13 Juli mendatang. Latihan ini melibatkan berbagai negara sahabat dan menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama militer di kawasan Indo-Pasifik.
Kunjungan ke Jakarta tidak hanya menegaskan eksistensi dan kerja sama strategis antara NATO dan negara-negara di kawasan, tapi juga menjadi sarana diplomasi maritim yang membuka ruang interaksi antara personel angkatan laut asing dengan masyarakat Indonesia.







Komentar