Bantul (Riaunews.com) – Penguatan budaya riset sejak pendidikan menengah terus didorong untuk menyiapkan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan sains dan teknologi. Salah satunya melalui program Titik Kumpul Sains dan Teknologi (Saintek) Berbasis Potensi Agrowisata dan Ekokreatif di SMA Negeri 1 Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (3/11/2026).
Program bertajuk “Dari Riset Lokal ke Budaya Ilmiah: Penguatan Klub Sains dan Mini Riset Kolaboratif SMA Negeri 1 Imogiri Bantul” tersebut bertujuan meningkatkan minat dan kemampuan berpikir ilmiah siswa melalui kegiatan penelitian berbasis potensi lokal.
Kegiatan ini mendapat sambutan dari Kepala SMA Negeri 1 Imogiri, Sumaryoto, S.Pd., M.Pd. Sosialisasi program disampaikan Ketua Riset, Dr. Masrukan, M.Sc., yang menekankan pentingnya pengalaman penelitian sebagai bagian dari pembelajaran sains di sekolah.
Bangun Budaya Ilmiah Sejak Sekolah
Masrukan mengatakan, program tersebut dirancang untuk meningkatkan minat, partisipasi, dan kapasitas berpikir ilmiah siswa melalui pengalaman langsung dalam riset teknologi pangan berbasis potensi lokal.
“Selain itu, kegiatan ini diharapkan memperkuat pipeline talenta sains dan teknologi yang menghubungkan pendidikan menengah dengan perguruan tinggi,” tambahnya.
Ia berharap penguatan budaya ilmiah di sekolah dapat menjadi fondasi bagi lahirnya generasi muda yang kritis dan kreatif, sekaligus memiliki kesiapan untuk mengembangkan sains dan teknologi di perguruan tinggi maupun masyarakat.
“Melalui program ini, penguatan budaya ilmiah di sekolah diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi muda yang kritis, kreatif, dan memiliki kesiapan untuk melanjutkan pengembangan sains dan teknologi di perguruan tinggi maupun masyarakat,” tegas Masrukan.
Kenalkan Inovasi Pangan dari Singkong dan Daun Kelor
Salah satu materi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah pengembangan pangan fungsional melalui diversifikasi produk olahan berbasis singkong. Inovasi yang diperkenalkan berupa cilok dengan fortifikasi daun kelor.
Materi tersebut disampaikan Eman Darmawan, S.TP., M.P., yang memperkenalkan pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai peluang pengembangan produk inovatif.
“Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada proses formulasi pangan serta pentingnya analisis kualitatif dan kuantitatif dalam mengevaluasi karakteristik dan mutu produk. Pendekatan ini diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual sekaligus mendorong kreativitas dan kemampuan siswa dalam mengembangkan gagasan berbasis sains,” jelas Eman.
Menurutnya, potensi lokal dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus inovasi bagi siswa. Melalui penguatan klub sains dan mini riset kolaboratif, siswa didorong untuk mengamati, bereksperimen, menganalisis, hingga mengembangkan solusi terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Program Titik Kumpul Saintek 2026 ini mendapat dukungan Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).







Komentar