Pekanbaru (Riaunews.com) – Harga cabai merah di Kota Pekanbaru terus merangkak naik. Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Pekanbaru yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga dan pasokan bahan pokok di Pasar Induk AKAP, Jalan Air Hitam, Senin (5/10/2026) malam.
Sidak dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pekanbaru Zulhelmi Arifin sekitar pukul 23.30 WIB. Bersama jajaran TPID, Zulhelmi meninjau sejumlah kios pedagang untuk memantau harga sekaligus pasokan bahan pokok yang masuk dari berbagai daerah penghasil.
Dari hasil pemantauan, kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai merah. Harga cabai di Pasar Induk Pekanbaru berbeda berdasarkan daerah asalnya.
Harga Cabai Berbeda Berdasarkan Daerah Asal
Zulhelmi mengatakan cabai asal Lampung saat ini dijual di Pasar Induk sekitar Rp75 ribu per kilogram. Sementara cabai dari Medan dan Aceh berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram.
Adapun cabai dari Sumatera Barat, khususnya Bukittinggi, mencapai Rp95 ribu per kilogram.
“Kalau cabai dari Sumatera Barat, Bukittinggi, itu harganya Rp95.000. Jadi memang cukup mahal,” kata pria yang akrab disapa Ami tersebut.
Menurutnya, harga cabai di tingkat Pasar Induk bahkan dapat mencapai Rp90 ribu per kilogram. Kondisi itu kemudian mendorong harga di pasar eceran hingga Rp115 ribu-Rp120 ribu per kilogram.
Sementara itu, cabai asal Lampung dan Medan yang masuk dengan harga lebih rendah diperkirakan dijual di pasar eceran sekitar Rp90 ribu-Rp95 ribu per kilogram.
Produksi Menurun, Pemko Siapkan Intervensi Harga
Zulhelmi mengatakan kenaikan harga cabai tidak terlepas dari berkurangnya produksi di sejumlah daerah penghasil akibat siklus panen. Penurunan produksi membuat pasokan cabai sementara berkurang, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi.
“Pedagang juga menyampaikan bahwa harga modalnya tinggi karena terjadi siklus panen. Di daerah penghasil produksinya berkurang,” ujarnya.
Selain itu, pasokan cabai dari sejumlah daerah penghasil juga diperebutkan untuk memenuhi kebutuhan di Pulau Jawa, terutama DKI Jakarta dan Banten. Kondisi tersebut turut memengaruhi pasokan yang masuk ke Pekanbaru.
“Yang dari Lampung juga berebutan untuk jual ke Jawa, terutama DKI Jakarta dan Banten untuk mencukupi kebutuhan cabai di daerah Jawa. Pedagang kita juga berebutan untuk mendapatkan barang agar bisa dijual di Pekanbaru,” jelasnya.
Zulhelmi memastikan harga bahan pokok lainnya masih terkendali. Pemerintah Kota Pekanbaru kini menyiapkan langkah intervensi untuk menekan harga cabai, salah satunya melalui dukungan pembiayaan transportasi dari daerah penghasil menuju Pekanbaru melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Dinas Ketahanan Pangan Pekanbaru juga tengah menghitung kebutuhan cabai di daerah tersebut sebagai bahan pengajuan dukungan kepada Bapanas.
“Yang lain insyaallah semua masih terkendali, seperti sayur-mayur, bawang dan lain-lain. Tinggal cabai ini saja yang menjadi PR kita,” pungkasnya.







Komentar