Pekanbaru (Riaunews.com) – Suasana tegang sempat menyelimuti Operational Command Center (OCC) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Rumbai, Riau, pada awal Januari 2026, setelah alarm sistem mendeteksi anomali serius pada pasokan energi. Gangguan terjadi akibat anjloknya tekanan gas dari pipa transmisi milik pihak ketiga yang memasok pembangkit listrik Blok Rokan, sehingga mengancam keberlangsungan operasi migas strategis nasional.
Power Dispatcher PHR melaporkan bahwa gangguan tersebut berpotensi memicu pemadaman listrik total atau blackout. Kondisi itu dinilai sangat berbahaya karena dapat menyebabkan ribuan sumur minyak mengalami pembekuan (congeal) dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dipulihkan. Menghadapi situasi kritis tersebut, PHR harus bertindak cepat untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Menanggapi kondisi darurat itu, Incident Management Team (IMT) PHR langsung diaktifkan dan menjalankan protokol penanganan krisis. Tim mengambil keputusan strategis dengan melakukan fuel switching, yakni mengalihkan bahan bakar turbin gas dari gas ke bahan bakar cair secara cepat dan terkontrol, agar pasokan listrik tetap terjaga tanpa menghentikan operasi pembangkit.
Di tengah keterbatasan pasokan energi, PHR menerapkan strategi prioritas berbasis data engineering. Perusahaan memfokuskan daya yang tersedia untuk menjaga fasilitas kritikal agar minyak tidak membeku di stasiun pengumpul dan jaringan pipa, serta mempertahankan operasi sumur berproduktivitas tinggi melalui sistem pengurangan beban otomatis (load shedding).
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa respons cepat dan ketangguhan para pekerja menjadi kunci keberhasilan mitigasi krisis tersebut. Ia menyebut manuver teknis dan strategi prioritas yang diterapkan mampu meminimalkan kehilangan produksi secara signifikan, meski gangguan berasal dari pihak ketiga.
Seiring perbaikan pipa gas yang dilakukan pihak terkait, PHR mulai melakukan kenaikan produksi secara bertahap dan terukur. Meski pemulihan masih diwarnai fluktuasi tekanan gas, stabilitas operasional Blok Rokan berhasil dijaga dan produksi kembali mendekati kondisi normal, menegaskan komitmen PHR dalam menjaga ketahanan energi nasional.







Komentar