Dari Penjual Makanan di Area Rig, Chandra Kini Jadi Kru Pengeboran Migas PHR

Spesial Riau, Utama16 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – Debu jalanan dan deru mesin rig pengeboran bukan hal asing bagi Chandra Setiawan. Pemuda asal Balam KM 15, Kabupaten Rokan Hilir itu selama bertahun-tahun membantu ibunya berjualan makanan di sekitar lokasi proyek pengeboran migas demi menyambung hidup.

Kini, perjalanan hidup Chandra berubah drastis. Dari yang sebelumnya hanya berada di luar pagar area kerja migas, ia resmi bergabung sebagai kru profesional di Rig PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) setelah mengikuti program Vokasi Migas yang digelar PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Perjalanan itu dimulai pada 2023 ketika Chandra mengikuti perpindahan rig bersama ibunya untuk berjualan makanan di sekitar lokasi kerja migas, mulai dari Balam KM 12, KM 16, hingga Bangko dan Sintong.

“Kami ikut ke mana rig itu pindah. Kalau lokasinya masih terjangkau, kami buka lapak di sana. Pernah istirahat sebentar karena rig pindah ke Duri yang terlalu jauh, tapi semangat kami tidak pernah surut untuk kembali lagi saat ada rig lain yang mendekat,” kenang Chandra.

Melihat aktivitas para pekerja di lapangan membuat Chandra bercita-cita bisa bekerja di industri migas. Kesempatan itu datang pada awal 2025 setelah ia mengetahui adanya program Vokasi Migas melalui grup Karang Taruna.

Chandra kemudian mengikuti seluruh tahapan seleksi mulai dari administrasi hingga medical check-up dan dinyatakan lolos untuk menjalani pelatihan di Indonesia Drilling Training Center, Indramayu, Jawa Barat, selama dua bulan.

“Di IDTC, saya belajar banyak hal yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari jauh. Kami diajarkan untuk memahami setiap detail operasi di lapangan,” ujarnya.

Putra Daerah Sakai Ikut Menembus Industri Migas

Sepulang dari pelatihan, Chandra kembali membantu ibunya berjualan sambil menunggu kesempatan kerja. Hingga akhirnya pada April 2026, ia mendapat panggilan untuk bergabung di Rig PDSI.

“Saya ingin membanggakan orang tua saya. Saya ingin membuktikan bahwa anak seorang penjual makanan di area rig juga bisa menjadi tenaga profesional di sana,” ungkapnya.

Selain Chandra, kisah serupa juga datang dari Wahyu Kurniawan, pemuda berdarah Sakai yang juga berhasil menembus industri hulu migas melalui program vokasi tersebut.

Bagi Wahyu, kesempatan bekerja di sektor migas di tanah kelahirannya sendiri menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus bukti bahwa putra daerah mampu bersaing di dunia kerja modern.

“Ini adalah pembuktian bahwa pemuda asli daerah mampu bersaing di dunia kerja modern,” ujarnya.

Wahyu mengaku sempat mengalami keraguan saat menjalani pendidikan dan praktik lapangan yang cukup berat. Namun dukungan keluarga membuatnya bertahan hingga berhasil menyelesaikan program tersebut.

Kisah Chandra dan Wahyu menjadi gambaran bagaimana program vokasi migas membuka peluang bagi generasi muda daerah untuk meningkatkan keterampilan sekaligus menembus industri energi nasional.

Komentar