Pekanbaru (Riaunews.com) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui mitigasi dini, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini bertujuan membantu membasahi lahan gambut dan menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan pemadaman.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Provinsi Riau, Edy Efrizal, mengatakan pemerintah telah melakukan langkah antisipasi sejak awal tahun untuk menekan risiko kebakaran saat cuaca kering.
“Sejak awal tahun kita sudah melakukan mitigasi secara maksimal dan berkelanjutan. Riau menjadi salah satu dari enam provinsi prioritas yang karhutlanya berhasil dikendalikan dengan baik,” ujar Edy, Jumat (23/10/2026).
Menurut Edy, pelaksanaan mitigasi sejak dini menjadi bagian penting dalam mengendalikan risiko karhutla, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan rentan terbakar ketika curah hujan menurun.
Modifikasi Cuaca untuk Basahi Lahan Gambut
Edy menjelaskan, Pemprov Riau telah melaksanakan OMC sejak awal tahun. Pada Februari hingga Maret, pemerintah melakukan penyemaian natrium klorida (NaCl) untuk membantu memicu hujan dan meningkatkan kelembapan lahan.
“Operasi modifikasi cuaca sudah kita lakukan sejak awal tahun. Pada Februari hingga Maret, penyemaian NaCl mencapai hampir 100 sampai 200 ton. Tujuannya untuk membantu menurunkan hujan, membasahi lahan gambut, dan memastikan cadangan air tersedia untuk kebutuhan pemadaman,” jelasnya.
Ia mengatakan, pembasahan lahan gambut menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi potensi kebakaran. Ketersediaan air juga diperlukan agar petugas dapat segera melakukan pemadaman ketika menemukan titik api.
Karena itu, pemerintah akan terus menjalankan mitigasi secara berkelanjutan dengan memperhatikan kondisi lahan dan perkembangan cuaca. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan risiko kebakaran, terutama saat memasuki periode cuaca kering.
Pemprov Riau Antisipasi Perubahan Cuaca
Di sisi lain, kondisi cuaca yang belum stabil masih menjadi perhatian pemerintah. Edy menyebut fenomena El Nino turut memengaruhi kondisi cuaca, sementara hujan dengan intensitas lebih lebat di Riau diperkirakan mulai terjadi pada November mendatang berdasarkan perkiraan yang disampaikan dalam wawancara.
Meski hujan berpotensi membantu mengurangi risiko karhutla, pemerintah juga perlu mengantisipasi kemungkinan bencana hidrometeorologi basah, termasuk banjir di sejumlah wilayah.
“Kita tetap harus melakukan antisipasi. Selain menghadapi potensi karhutla saat cuaca kering, kita juga perlu bersiap menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi basah ketika hujan mulai meningkat,” ungkapnya.
Edy menegaskan, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus berjalan beriringan agar pemerintah dapat merespons perubahan kondisi cuaca secara tepat.
“Dengan demikian, risiko karhutla dapat ditekan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca di Riau,” tutupnya.







Komentar