Meranti (Riaunews.com) – Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti merespons munculnya isu dugaan relasi sesama jenis di kalangan pelajar salah satu SMA sederajat di wilayah setempat. LAMR mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat pembinaan dan pengawasan terhadap generasi muda melalui pendidikan karakter, nilai agama, dan budaya Melayu.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kepulauan Meranti Datuk Seri Afrizal Cik mengatakan, pembinaan moral dan karakter anak perlu dilakukan sejak dini. Menurutnya, upaya tersebut tidak boleh hanya dilakukan setelah muncul persoalan di lingkungan masyarakat.
“Kita ingin anak-anak Meranti berilmu, berakhlak, memahami adat dan memiliki masa depan yang baik. Pendidikan karakter dan nilai Melayu harus terus diperkuat,” ujar Afrizal Cik di Selatpanjang, Sabtu (3/10/2026).
Ia menegaskan, tanggung jawab pembinaan pelajar tidak hanya berada di tangan sekolah. Keluarga, pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga adat, dan lingkungan sosial perlu terlibat dalam membangun pola pengawasan yang berkelanjutan.
LAMR Soroti Peran Keluarga dan Lingkungan Pergaulan
Afrizal meminta masyarakat tidak hanya menyalahkan anak ketika muncul persoalan terkait perilaku remaja. Ia menilai lingkungan pergaulan, pengawasan keluarga, penggunaan media sosial, serta komunikasi antara orang tua dan anak juga perlu mendapat perhatian.
“Jangan hanya menyalahkan anak. Lingkungan pergaulan, pengawasan keluarga, media sosial dan komunikasi dengan orang tua juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi turut memengaruhi pola interaksi remaja. Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka agar dapat mendampingi anak dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan.
Nilai Agama dan Budaya Melayu Didorong Diperkuat
Sebagai lembaga adat, LAMR Kepulauan Meranti menyatakan berkomitmen menjalankan tanggung jawab moral melalui pelestarian nilai budaya Melayu. Nilai kesopanan, adab, agama, dan tanggung jawab keluarga dinilai perlu ditanamkan secara konsisten kepada generasi muda.
Afrizal berharap penguatan pendidikan karakter dapat menjadi bagian dari upaya membentengi pelajar sekaligus menjaga identitas budaya daerah. Ia juga mendorong sinergi keluarga, sekolah, pemerintah, tokoh agama, dan lembaga adat agar pembinaan remaja berjalan secara berkelanjutan.
