5 Faktor Penting yang perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan Program MBG

Opini20 Dilihat

Oleh Dita Indah Sari

Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa program makan sekolah di beberapa negara tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga melibatkan sekolah, guru, dan orang tua dalam memahami kebutuhan siswa? Di Jepang, misalnya, penanganan makanan bagi siswa dengan alergi melibatkan koordinasi antara pihak sekolah dan orang tua agar kondisi masing-masing anak dapat diperhatikan.

Hal tersebut menarik untuk dibandingkan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Ketika satu program harus menyediakan makanan bagi anak-anak dengan kondisi, kebiasaan, kebutuhan gizi, bahkan kemungkinan alergi yang berbeda-beda, apakah satu standar yang sama sudah cukup untuk menjawab seluruh kebutuhan tersebut?

Dengan cakupan program yang besar, keberhasilan MBG seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah makanan yang berhasil dibagikan. Kualitas makanan, keamanan, pemerataan, keterlibatan sekolah dan orang tua, hingga transparansi pengelolaannya juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Berikut lima faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan MBG:

1. Kebutuhan Gizi Anak Tidak Selalu Sama

Anak sekolah bukan kelompok yang memiliki kebutuhan makanan yang sepenuhnya sama. Usia, kondisi tubuh, aktivitas, kebiasaan makan, hingga alergi dapat berbeda diantara satu siswa dan siswa lainnya.

Karena itu, standar gizi yang tinggi tetap penting, tetapi penerapannya juga perlu memberi ruang terhadap kondisi nyata di masing-masing sekolah. Makanan yang memenuhi standar secara umum belum tentu secara otomatis sesuai dengan kebutuhan setiap anak

2. Sekolah Perlu Memiliki Ruang dalam Menentukan Makanan

Bagaimana jika sekolah tidak hanya menjadi tempat menerima dan membagikan makanan, tetapi juga menjadi salah satu pihak yang ikut menentukan menu? Sekolah merupakan pihak yang setiap hari berinteraksi dengan siswa. Guru dapat mengetahui kondisi tertentu pada anak, sementara orang tua memiliki informasi mengenai alergi, pantangan, atau kebutuhan khusus anak mereka.

Keterlibatan tersebut dapat membantu memastikan bahwa makanan yang diberikan tidak hanya memenuhi standar secara umum, tetapi juga lebih sesuai dengan kondisi siswa di masing-masing sekolah.

3. Orang Tua dan Siswa Perlu Dilibatkan

Program yang ditujukan langsung kepada anak seharusnya memiliki ruang untuk mendengarkan pihak yang menerima manfaatnya.

Sekolah dapat membuka komunikasi dengan wali murid melalui pendataan alergi dan pantangan makanan, formulir persetujuan, atau forum bersama. Bukan berarti setiap orang tua harus menentukan menu sendiri, tetapi informasi dari orang tua dan siswa dapat menjadi pertimbangan penting sebelum makanan diberikan.

Sebab, siapa yang lebih mengetahui kondisi seorang anak selain anak itu sendiri, orang tua, dan guru yang setiap hari bersamanya?

4. Keamanan Makanan Harus Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Makanan dalam jumlah besar membutuhkan pengawasan sejak bahan diterima hingga makanan dikonsumsi. Kebersihan bahan, proses memasak, pengemasan, pengiriman, penyimpanan, hingga kondisi makanan ketika tiba di sekolah semuanya perlu diperhatikan.

Sekolah juga tidak seharusnya hanya menjadi titik terakhir penerimaan makanan. Jika ditemukan makanan yang tidak memenuhi standar keamanan, harus ada mekanisme yang jelas bagi sekolah untuk melaporkan atau menolaknya.

5. Transparansi Harus Sebanding dengan Besarnya Anggaran

Semakin besar sebuah program, semakin besar pula kebutuhan masyarakat untuk mengetahui bagaimana program tersebut dikelola.

Dengan anggaran MBG yang mencapai ratusan triliun rupiah, pertanyaan mengenai transparansi, pengawasan, pemilihan pengelola, hingga penggunaan dana merupakan hal yang wajar untuk diajukan.

Apakah mekanisme pengawasan yang ada sudah cukup untuk memastikan tidak terdapat celah dalam pengelolaan anggaran sebesar ini? Pertanyaan tersebut bukan sekadar mencari kesalahan. Justru, semakin besar uang publik yang digunakan, semakin penting pula ruang bagi masyarakat untuk mengawasi dan mempertanyakannya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan MBG bukan hanya berapa banyak porsi makanan yang berhasil dibagikan, tetapi apakah makanan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak yang menerimanya, Karena program makanan untuk anak seharusnya tidak hanya berbicara tentang berapa banyak makanan yang dapat diberikan, tetapi juga apakah makanan tersebut benar-benar tepat untuk anak yang menerimanya.