Intisari dari Maulid Nabi Muhammad Saw

Opini, Seputar Islam24 Dilihat

Oleh Zahra Najma

Setiap tahun umat Islam merayakan maulid nabi Muhammad saw. dengan pembacaan shalawat, tabligh Akbar, bahkan pawai secara besar-besaran. Bahkan, Kementerian Agama ( Kemenag ) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat dan digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H.

Sayangnya, esensi dari perayaan tersebut sering kali hanya berhenti pada aspek ritual dan emosional. Pembahasan untuk meneladani nabi Muhammad saw. pada kesempatan maulid pun masih terbatas pada keteladanan akhlak dan belum menyentuh kesadaran masyarakat untuk mengubah sistem jahiliyah yang menghamba kepada dunia menjadi sistem Islam yang menghamba kepada Allah SWT. Tuntutan perubahan tersebut sebenarnya sudah muncul di kalangan umat, namun arah dan metode perjuangannya masih sangat jauh dari meneladani Rasulullah saw.

Akibatnya, masyarakat tidak pernah menyadari nilai sebenarnya dari merayakan maulid nabi Muhammad saw. Yang sampai kepada mereka hanyalah ekspresi cinta tanpa konsekuensi ideologis. Padahal cinta kepada Rasulullah saw haruslah melahirkan ikatan antara umat dengan risalah Islam serta melanjutkan perjuangan yang beliau bawa.

Umat dibuat buta bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang sudah mendarah daging di dalam keseharian mereka. Terutama sistem kapitalisme, yang tak mengenal kata menyerah untuk menghambat suara kebangkitan umat Islam dalam menuntut perubahan sistem.

Rasulullah Sebagai Panutan Umat Islam

Dalam QS. Ali-Imran ayat 31, Allah memberikan perintah untuk mengikuti nabi Muhammad saw. sebagai bukti kecintaan kita kepada-Nya. Tentu saja bukti yang dimaksud bukanlah sekedar teori yang dijadikan sebagai ritual semata, melainkan sebuah aksi nyata dalam mengikat hukum Syara’ ke dalam keseharian kita, sekaligus meneladani metode perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam.

Penerapan sistem kapitalisme-sekuler di negeri-negeri muslim mewajibkan umat Islam untuk memperjuangkan penerapan syari’at Islam, bukan secara parsial, melainkan secara kaffah melalui kepemimpinan Islam (Khilafah) meneladani perjuangan Rasulullah saw. di Mekkah. Ditempuh melalui 3 tahap: Pembinaan, interaksi dengan umat dan penerimaan kekuasaan. Dengan metode inilah, kehidupan Islam dapat direalisasikan, dan firman Allah SWT dalam surah Al-Anbiya ayat 107 akan menjadi nyata, yaitu hadirnya Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Barakallahu fiikum.

Komentar