Oleh Fajar Santoso
Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta
Pernahkah Anda duduk di akhir bulan, melihat mutasi rekening, dan membatin, “Perasaan aku nggak beli barang mahal, kok uangnya habis, ya?”
Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak dari kita, terutama Generasi Z, yang terjebak dalam siklus ini. Mulai dari jajan es kopi susu yang tinggal scan QRIS, checkout keranjang e-commerce pakai dompet digital, sampai top-up koin game. Semuanya serba cepat, serba instan, dan yang paling penting: nggak terasa seperti ngeluarin uang.
Fenomena ini bukanlah sebuah kebetulan. Di balik kemudahan teknologi pembayaran saat ini, ada sebuah “sihir digital” yang tanpa kita sadari sedang mengotak-atik psikologi kita.
Sistem Pembayaran Instan Membuat Gen Z Boros
Dulu, ketika kita membeli sesuatu seharga Rp100.000 dengan uang tunai, ada proses fisik yang terjadi. Kita membuka dompet, mengambil selembar uang berwarna merah, menyerahkannya, dan melihat uang itu berpindah tangan. Secara psikologis, ada perasaan berat hati yang muncul. Para ahli ekonomi menyebutnya sebagai pain of paying (rasa nyeri saat membayar). Perasaan ini sebenarnya bagus karena berfungsi sebagai “rem” alami otak agar kita tidak boros.
Namun, dompet digital dan QRIS menghilangkan rasa sakit itu. Teknologi ini menciptakan apa yang disebut sebagai payment decoupling, yaitu sebuah ilusi yang memisahkan rasa senang saat mendapatkan barang dengan rasa “nyeri” saat membayarnya.
Ketika kita melakukan scan barcode atau memasukkan PIN, otak kita tidak memprosesnya sebagai kehilangan aset nyata. Angka saldo yang berkurang di layar HP terasa lebih seperti pengurangan poin di video game ketimbang uang hasil keringat sendiri.
Bagi Generasi Z, yang terbiasa dengan segala sesuatu yang serba instan, ekosistem digital ini ibarat pedang bermata dua.
Coba perhatikan bagaimana media sosial dan dompet digital kini terintegrasi. Jarak antara melihat barang lucu di media sosial (“Racun TikTok nih!”) sampai ke tahap pembayaran kini hanya memakan waktu hitungan detik. Kecepatan ini membunuh jeda waktu yang biasanya kita pakai untuk berpikir rasional (“Aku butuh ini nggak, ya?”). Akibatnya, dopamin keburu naik, dan belanja impulsif pun terjadi. Belum lagi jebakan koin virtual dan langganan otomatis (auto-subscription).
Tekonologi Koin Digital Membuat Kita Amnesia Finansial
Mengubah uang Rupiah menjadi “koin digital” adalah trik psikologis agar uang terasa kurang nyata. Tanpa disadari, kita sering mengalami “amnesia finansial”, lupa sudah berapa banyak uang yang kita habiskan karena tidak ada wujud fisiknya, sampai tagihan menumpuk di akhir bulan.
Tentu saja, kita tidak mungkin kembali ke zaman batu dan menolak menggunakan dompet digital atau QRIS. Teknologi ini diciptakan untuk efisiensi, dan itu adalah hal yang baik. Namun, kita tidak boleh kalah pintar dari algoritma yang ada di genggaman kita.
Untuk mematahkan “sihir digital” ini, kita harus secara sadar mengembalikan rasa “sakit” yang dihilangkan oleh teknologi.
Kita dapat menerapkan aturan 24 jam, yaitu masukkan barang ke keranjang, lalu tutup aplikasinya. Jika besok kamu masih sangat menginginkannya, barulah beli.
Kita juga jangan menaruh seluruh uang di dompet digital. Isi saldo secukupnya saja untuk jajan mingguan. Jika saldonya habis, rasakan “nyeri”-nya saat harus top-up lagi dari rekening utama.
Kita juga harus menyetel aplikasi mengirimkan notifikasi setiap kali ada uang keluar, sekecil apa pun itu. Ini membantu membangunkan otak dari amnesia finansial.
Generasi Z adalah generasi yang melek teknologi, namun di era cashless ini, melek teknologi saja tidak cukup. Kita butuh literasi finansial dan kontrol diri yang kuat agar kemudahan digital ini benar-benar menjadi alat yang membantu kita, bukan jebakan ilusi yang pelan-pelan menguras isi dompet kita.
