Film Jangan Buang Ibu Hadir di UWM , Ajak Mahasiswa Refleksikan Hubungan dengan Orang Tua

Daerah, Pendidikan17 Dilihat

Yogyakarta (Riaunews.com) – Universitas Widya Mataram menjadi tuan rumah kegiatan “Jangan Buang Ibu Goes to Campus: Deep Talk” yang digelar di Auditorium Piwulangan Kampus Terpadu UWM, Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye edukatif film Jangan Buang Ibu yang diproduksi oleh Leo Pictures dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 25 Juni 2026.

Acara tersebut menghadirkan para pemeran film, yakni Erika Carlina dan Dwi Sasono, serta psikolog Nona Pooroe Utomo. Diskusi dipandu oleh Inge Gunawan dengan format deep talk yang mengangkat isu hubungan orang tua dan anak, dinamika keluarga, serta pentingnya empati sosial di tengah kehidupan modern.

Melalui program JBI Goes to Campus, mahasiswa diajak melihat bagaimana film dapat menjadi medium edukasi yang menghubungkan isu sosial dengan kehidupan generasi muda. Selain membahas psikologi keluarga dan komunikasi antargenerasi, forum ini juga menyoroti peran industri kreatif dalam menyampaikan pesan-pesan sosial yang relevan bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga menyaksikan penayangan trailer film Jangan Buang Ibu. Film yang diproduseri Agung Saputra, disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu, dan diadaptasi dari novel karya Wahyu Derapriyangga itu mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal bernama Ristiana yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih, namun harus menghadapi kenyataan pahit ketika menghabiskan masa tuanya di panti jompo.

Dwi Sasono mengatakan film tersebut tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang refleksi bagi masyarakat untuk kembali memaknai hubungan dengan orang tua. Senada dengan itu, Erika Carlina menilai tema yang diangkat sangat dekat dengan realitas kehidupan banyak anak muda yang sibuk mengejar pendidikan maupun karier hingga sering melupakan pentingnya meluangkan waktu bersama keluarga.

Sementara itu, Rektor UWM, Edy Suandi Hamid, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kepekaan sosial mahasiswa. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat memperkuat kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga hubungan keluarga, menghormati orang tua, dan menumbuhkan empati dalam kehidupan bermasyarakat.

Komentar