Oleh Hj. Devi Novianti
Pemerhati Generasi dan Pengisi Majelis Taklim
Kenaikan harga kedelai impor kembali menjadi pukulan berat bagi perajin tempe dan tahu di Indonesia. Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah, bahan baku utama yang selama ini bergantung pada impor semakin mahal. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha kecil, tetapi juga masyarakat luas yang menjadikan tempe sebagai sumber protein utama yang terjangkau.
Sebagaimana diberitakan oleh “kumparan.com” (https://reference-url-citation.invalid/0), para pedagang menyiasati kondisi ini dengan mengecilkan ukuran tempe agar tetap bisa dijual. Sementara itu, laporan “kompas.id” (https://reference-url-citation.invalid/1) menyebutkan bahwa perajin juga terbebani oleh kenaikan harga plastik kemasan. Akibatnya, sebagian harus mengurangi produksi, bahkan menghentikan usaha.
Realitas ini menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan pangan negeri ini. Ketergantungan pada impor kedelai yang nilainya mencapai triliunan rupiah membuat ekonomi domestik sangat rentan terhadap fluktuasi global. Ketika rupiah melemah, rakyat kecil langsung merasakan dampaknya.
Pandangan Islam Bertolak Belakang Dengan Kapitalisme
Dalam sistem kapitalisme, kondisi ini dianggap sebagai hal yang wajar karena pasar menjadi penentu utama. Namun Islam memandang berbeda. Islam tidak membiarkan kebutuhan pokok rakyat diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan…” (QS. An-Nisa: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa harta dan sumber kehidupan tidak boleh dikelola secara sembarangan tanpa tanggung jawab. Negara wajib menjaga agar sumber kehidupan rakyat tidak jatuh dalam sistem yang merugikan mereka.
Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya…” (QS. Al-Mulk: 15)
Ayat ini menjadi dasar bahwa sumber daya alam harus dikelola untuk kemaslahatan umat, bukan bergantung pada pihak luar.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab penuh dalam menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk dalam hal pangan. Tidak boleh ada pembiaran ketika rakyat kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak bersungguh-sungguh untuk mereka dan tidak menasihati mereka, kecuali ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR. Muslim)
Hadits ini menjadi peringatan keras bahwa kelalaian negara dalam mengurus rakyat adalah dosa besar.
Langkanya Kedelai jadi Bukti Gagalnya Sistem
Dari perspektif Islam ideologis, masalah kedelai ini bukan sekadar persoalan ekonomi teknis, tetapi menunjukkan kegagalan sistem dalam menjalankan tanggung jawabnya. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh.
Pertama, dalam sistem Khilafah, mata uang berbasis emas dan perak digunakan untuk menjaga stabilitas nilai. Dengan demikian, fluktuasi seperti pelemahan rupiah tidak akan berdampak besar pada harga kebutuhan pokok.
Kedua, negara wajib mewujudkan kemandirian pangan. Lahan-lahan pertanian yang terbengkalai harus dihidupkan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini mendorong produktivitas dan kemandirian dalam sektor pertanian.
Ketiga, negara wajib melindungi pelaku usaha kecil. Dalam Islam, negara tidak boleh membiarkan rakyat terhimpit oleh mekanisme pasar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)
Makna hadits ini menunjukkan bahwa sumber daya yang menjadi kebutuhan umum tidak boleh dimonopoli atau diserahkan kepada pihak tertentu hingga menyulitkan rakyat.
Kondisi perajin tempe hari ini adalah cerminan nyata bahwa sistem yang ada belum mampu menghadirkan keadilan ekonomi. Ketika bahan pokok bergantung pada impor, ketika nilai mata uang mudah goyah, dan ketika negara tidak hadir sebagai pelindung, maka yang terjadi adalah penderitaan rakyat kecil.
Sudah saatnya kita tidak hanya mengeluhkan keadaan, tetapi juga mencari solusi yang hakiki. Islam tidak hanya menawarkan nilai spiritual, tetapi juga sistem kehidupan yang mampu menjamin kesejahteraan.
Jeritan perajin tempe hari ini adalah panggilan bagi kita semua. Bahwa pangan bukan sekadar komoditas, tetapi hak dasar yang harus dijamin negara. Dan Islam telah memberikan panduan yang jelas untuk mewujudkan hal tersebut.
Semoga kita mampu mengambil pelajaran, dan perlahan kembali kepada sistem yang tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi benar-benar menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a’lam bish-shawab.
