BPS: Kampar dan Siak Jadi Tujuan Utama Migrasi Penduduk di Riau

Kampar, Siak24 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat mobilitas penduduk di Provinsi Riau semakin dinamis antarwilayah. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, setiap kabupaten dan kota di Riau kini memiliki karakter berbeda sebagai daerah tujuan maupun daerah asal migrasi.

Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, mengatakan migrasi seumur hidup menjadi indikator utama untuk melihat pergerakan penduduk dalam jangka panjang.

“Migrasi seumur hidup didefinisikan sebagai perbedaan antara kabupaten/kota tempat tinggal saat survei dengan tempat lahir. Tempat tinggal mengacu pada tempat biasa menetap minimal satu tahun atau kurang dari satu tahun tetapi berniat menetap,” ujar Asep, Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan data SUPAS 2025, Kabupaten Siak mencatat persentase migrasi masuk seumur hidup tertinggi sebesar 44,01 persen. Posisi berikutnya ditempati Kampar sebesar 43,66 persen dan Pekanbaru 42,02 persen.

Selain itu, Pelalawan mencatat migrasi masuk sebesar 39,32 persen, Dumai 37,49 persen, Rokan Hulu 36,29 persen, dan Rokan Hilir 35,69 persen.

Sementara itu, dua daerah dengan migrasi masuk terendah adalah Indragiri Hilir sebesar 9,80 persen dan Kepulauan Meranti sebesar 7,62 persen.

“Kepulauan Meranti juga mencatat migrasi keluar seumur hidup cukup tinggi mencapai 21,38 persen. Ini menunjukkan arus keluar penduduk masih kuat dari wilayah tersebut,” jelas Asep.

Pekanbaru Catat Migrasi Keluar Tertinggi

BPS juga mencatat indikator migrasi risen atau perpindahan penduduk dalam lima tahun terakhir mengalami perubahan cukup signifikan.

Kabupaten Kampar menjadi daerah dengan migrasi masuk risen tertinggi sebesar 9,44 persen, sedangkan migrasi keluarnya hanya 2,12 persen.

“Kampar menjadi daerah dengan migrasi risen neto tertinggi sebesar 7,33 persen. Ini menunjukkan Kampar semakin kuat sebagai tujuan perpindahan penduduk di Riau,” kata Asep.

Siak juga mencatat tren positif dengan migrasi masuk risen sebesar 4,49 persen dan keluar 2,25 persen. Indragiri Hulu, Pelalawan, Rokan Hulu, dan Rokan Hilir juga masih mencatat selisih migrasi positif.

Sebaliknya, Kota Pekanbaru justru mengalami migrasi keluar risen yang tinggi. BPS mencatat migrasi keluar dari Pekanbaru mencapai 12,69 persen, sedangkan migrasi masuk hanya 4,28 persen.

“Pekanbaru menjadi daerah dengan migrasi risen neto terendah, yaitu minus 8,41 persen. Artinya dalam lima tahun terakhir, jumlah penduduk yang keluar jauh lebih besar dibandingkan yang masuk,” ungkapnya.

Fenomena daerah pelepas penduduk juga terjadi di Bengkalis, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hilir yang mencatat angka migrasi keluar lebih tinggi dibandingkan migrasi masuk.

Asep menilai perubahan pola migrasi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun arah pembangunan ke depan.

“Wilayah dengan arus masuk tinggi perlu menyiapkan infrastruktur dan layanan dasar, sementara daerah dengan arus keluar tinggi perlu memperkuat daya tarik ekonomi agar tidak terus kehilangan penduduk,” tutupnya.

Komentar