Pekanbaru (Riaunews.com) – Aksi unjuk rasa penolakan relokasi dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang memasuki hari kedua di Kantor Gubernur Riau mulai menimbulkan persoalan lingkungan. Bau tak sedap tercium di sejumlah titik di sekitar lokasi aksi, Selasa (14/4/2026).
Ratusan massa dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP) masih bertahan di Jalan Cut Nyak Dien dengan mendirikan tenda sebagai bentuk protes. Namun, keterbatasan fasilitas sanitasi diduga menjadi penyebab munculnya aroma tidak sedap di area tersebut.
Pantauan di lapangan, hanya terdapat dua toilet portabel yang disediakan di samping Masjid Al-Hidayah. Kondisi ini dinilai tidak sebanding dengan jumlah massa yang bertahan di lokasi.
“Udah mulai parah aromanya. Kasihan sama petugas kebersihan yang nanti bakal bersihin lokasi pas mereka bubar,” ujar seorang pengendara, Salsabila.
Sampah Mulai Menumpuk
Selain bau tak sedap, tumpukan sampah juga mulai terlihat di sejumlah titik. Sampah plastik hingga sisa makanan berserakan di sekitar area aksi, memperburuk kondisi lingkungan.
Aksi ini merupakan lanjutan dari tuntutan massa yang belum terpenuhi, termasuk keinginan untuk melakukan pertemuan daring dengan Presiden RI. Massa juga mendirikan dapur umum serta fasilitas pendukung lainnya di lokasi.
Berdasarkan informasi, massa aksi berencana bertahan hingga Sabtu, 18 April 2026, sambil menunggu respons dari pemerintah terkait tuntutan mereka.
