Rokan Hilir (Riaunews.com) – Tradisi Ceng Beng atau sembahyang kuburan kembali digelar masyarakat keturunan Tionghoa di Kabupaten Rokan Hilir. Ritual sakral ini menjadi momen penting untuk menghormati leluhur sekaligus ajang pulang kampung bagi para perantau.
Sejumlah wilayah seperti Bagansiapiapi, Sinaboi, Pulau Halang, hingga Panipahan dipadati warga yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Tradisi yang berlangsung selama sekitar 15 hari ini mencapai puncaknya pada Sabtu (4/4/2026).
Panipahan Dipadati Pemudik
Di Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, lonjakan pemudik terlihat signifikan. Kota pesisir yang dikenal sebagai “kota terapung” ini menjadi salah satu pusat perayaan Ceng Beng karena banyaknya warga keturunan Tionghoa.
Arus penumpang kapal ferry dari berbagai daerah meningkat tajam, termasuk dari Bagansiapiapi dan Tanjung Balai Asahan. Kondisi ini turut menggerakkan berbagai sektor ekonomi lokal.
Pendapatan Warga Meningkat
Lonjakan aktivitas selama Ceng Beng membawa berkah bagi warga setempat. Jasa transportasi seperti ojek mengalami peningkatan permintaan, terutama untuk mengantar penziarah ke tempat pemakaman umum (TPU).
Azhar (36), seorang tukang ojek di Pelabuhan Panipahan, mengaku pendapatannya meningkat drastis selama momen ini.
“Selama Ceng Beng, pendapatan bisa mencapai Rp300 ribu per hari. Kalau hari biasa paling tinggi Rp100 ribu,” ujarnya.
Selain ojek, pedagang buah, makanan, hingga penginapan seperti hotel dan wisma juga merasakan dampak positif dari ramainya pemudik yang berbelanja dan menggunakan jasa lokal.
Tradisi Sakral dan Ajang Silaturahmi
Camat Pasir Limau Kapas, Yahya Khan, menyampaikan apresiasi atas kelancaran pelaksanaan tradisi ini. Ia menyebut Ceng Beng tidak hanya berjalan tertib dan aman, tetapi juga menjadi momen penting bagi para perantau untuk kembali ke kampung halaman.
Salah seorang pemudik, Kho Ai (52) dari Surabaya, mengatakan bahwa Ceng Beng merupakan tradisi wajib bagi keluarga untuk berziarah dan berdoa bersama di makam leluhur.
“Ini momen pulang kampung, berkumpul dengan keluarga, dan berziarah. Tradisi ini wajib bagi kami,” ujarnya.
Seiring berakhirnya perayaan, para perantau mulai kembali ke kota tempat mereka bekerja. Aktivitas di Panipahan pun diperkirakan akan kembali normal setelah sempat ramai selama perayaan berlangsung.
Meski demikian, Ceng Beng tetap menjadi tradisi tahunan yang tidak hanya sarat nilai budaya dan spiritual, tetapi juga memberi dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat setempat. (Yan)
