Siak (Riaunews.com) – Bupati Siak, Afni Zulkifli, menegaskan pentingnya penguatan ekonomi berbasis kampung di tengah tekanan fiskal yang dihadapi daerah. Ia meminta pemerintah kampung bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar pelaksana program.
Hal itu disampaikan saat pelantikan anggota Pengganti Antar Waktu (PAW) Badan Permusyawaratan Kampung (Bapekam) di Kecamatan Kandis, Kamis (2/4/2026). Afni menilai, saat ini pemerintah kabupaten dan kampung menghadapi tantangan yang sama, terutama terkait kondisi keuangan daerah.
Afni mengungkapkan, penurunan transfer dari pemerintah pusat di tengah kewajiban menjalankan program prioritas nasional memaksa daerah melakukan efisiensi dan disiplin fiskal. Ia menyebut porsi belanja pegawai di Kabupaten Siak masih berada di kisaran 36 hingga 38 persen, di atas batas ideal 30 persen.
Penyesuaian Anggaran Jadi Tantangan
Untuk menyesuaikan ketentuan tersebut, Pemkab Siak harus mengurangi belanja hingga Rp500 miliar sampai Rp600 miliar. Meski begitu, Afni memastikan tidak akan merumahkan tenaga PPPK.
“Komitmen kami jelas, jangan sampai ada pegawai yang dirumahkan. Kita cari jalan lain, meskipun semua harus merasakan pengetatan,” ujarnya.
Sebagai langkah penyesuaian, pemerintah daerah telah melakukan rasionalisasi anggaran, termasuk penyesuaian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).
Dana Desa Harus Produktif
Di tengah keterbatasan anggaran, Afni menekankan perubahan pola pembangunan di tingkat kampung. Ia meminta dana desa difokuskan pada kegiatan produktif yang mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Ia mencontohkan sejumlah program seperti peternakan ayam petelur, pertanian hortikultura, hingga budidaya hidroponik yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Selain itu, Pemkab Siak juga membuka akses pemanfaatan aset daerah bagi petani dan pelaku UMKM dengan skema fleksibel, termasuk pembayaran sewa pascapanen.
Optimalkan Program Nasional
Afni juga menyoroti peluang dari program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai mampu menciptakan perputaran ekonomi besar di daerah. Ia menekankan agar rantai pasok program tersebut melibatkan pelaku usaha lokal.
“Jangan sampai anggarannya besar, tetapi belanjanya keluar daerah. Produk lokal harus jadi prioritas,” tegasnya.
Menutup arahannya, Afni mengajak seluruh elemen pemerintahan memperkuat kolaborasi dan meninggalkan ego sektoral guna menghadapi tekanan fiskal bersama.
“Kita harus kompak dan fokus pada solusi. Ini rumah kita bersama yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” pungkasnya.
