PTPN IV PalmCo Jaga Pasokan MinyaKita Jelang Lebaran

Jakarta (Riaunews.com) – Memasuki pertengahan Ramadan dan menjelang Idulfitri, pemenuhan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya terkait harga minyak goreng rakyat yang sempat menembus Rp19.000 per liter di pasaran.

Merespons kondisi tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PT Perkebunan Nusantara III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo terus mengawal ketersediaan pasokan serta stabilitas harga di tingkat distributor.

Langkah ini sejalan dengan arahan Andi Amran Sulaiman yang sebelumnya menyoroti anomali harga minyak goreng saat melakukan inspeksi mendadak di Pasar Kebayoran, Jakarta. Dalam sidak tersebut ditemukan produk MinyaKita dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan pihaknya berkomitmen menjaga stabilitas harga minyak goreng agar masyarakat tidak terbebani menjelang Lebaran.

“Sebagai BUMN di industri sawit, kami memiliki tanggung jawab memastikan masyarakat bisa menjalani Ramadan hingga Idulfitri dengan tenang tanpa terbebani lonjakan harga minyak goreng,” ujarnya.

Ia menjelaskan anak perusahaan PalmCo, PT Industri Nabati Lestari, memproduksi MinyaKita dengan harga jual Rp13.439 per liter kepada distributor. Harga tersebut diharapkan tetap memungkinkan pedagang menjual kepada masyarakat sesuai HET yang ditetapkan pemerintah.

Produksi Minyak Goreng Digenjot Jelang Puncak Konsumsi

Selain menjaga stabilitas harga, PalmCo juga meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang Lebaran.

Di sektor hulu, produksi Crude Palm Oil (CPO) perusahaan ditargetkan meningkat lebih dari 10,5 persen menjadi sekitar 225.940 ton pada April 2026.

Sementara di sektor hilir, PT Industri Nabati Lestari menargetkan produksi minyak goreng ritel mencapai sekitar 4,2 juta liter pada Maret 2026. Angka tersebut direncanakan meningkat 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.

Jatmiko menyebut seluruh kapasitas pabrik saat ini difokuskan untuk memproduksi MinyaKita. Bahkan, perusahaan menunda sementara produksi beberapa merek komersial internal agar distribusi minyak goreng program pemerintah tetap terjaga.

Melalui langkah ini, pemerintah bersama BUMN diharapkan mampu menjaga ketersediaan minyak goreng di pasaran sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang wajar hingga perayaan Idulfitri.