Pekanbaru (Riaunews.com) – Anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru, Davit Marihot Silaban, mempertanyakan kinerja Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pekanbaru terkait kelangkaan dan mahalnya minyak goreng subsidi MinyaKita di pasaran.
Menurut Davit, hingga awal Mei 2026 masyarakat di Pekanbaru masih kesulitan mendapatkan MinyaKita. Kalaupun tersedia, harganya dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.
Di sejumlah toko dan pasar, harga MinyaKita bahkan disebut mencapai Rp21 ribu per liter.
“MinyaKita langka dan harganya melampaui HET. Pemerintah kota, khususnya Disperindag, memang bergerak, tapi sampai sekarang belum ada hasil yang dirasakan masyarakat,” kata Davit, Sabtu (9/5/2026).
Politisi PDI Perjuangan itu meminta satuan tugas yang dibentuk Disperindag bekerja lebih maksimal untuk mengungkap penyebab kelangkaan minyak goreng subsidi tersebut.
DPRD Minta Pemko Ambil Langkah Konkret
Davit menilai pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat terus kesulitan memperoleh minyak goreng dengan harga terjangkau karena MinyaKita merupakan kebutuhan pokok rumah tangga.
“Emak-emak yang belanja banyak mengeluh. Minyak goreng ini kebutuhan penting, hampir setiap rumah pasti pakai minyak. Jadi persoalan ini sangat urgent,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan kenaikan harga minyak goreng dapat berdampak pada kenaikan harga bahan makanan lainnya yang menggunakan minyak dalam proses produksi.
“Semua saling berkaitan. Kalau harga minyak naik, tentu bahan makanan yang menggunakan minyak juga ikut naik,” ujarnya.
Karena itu, Davit mendesak Pemerintah Kota Pekanbaru segera mengambil langkah konkret agar persoalan MinyaKita dapat segera diatasi.
“Pemko harus cepat bergerak. Jangan hanya bilang sudah turun, tapi entah turun ke mana, karena hasilnya tidak ada dan masyarakat tidak merasakan perubahan,” tutupnya.
