Antrean BBM di Bengkalis Mulai Normal, Isu Pembatasan Pertalite Masih Jadi Kekhawatiran

Bengkalis (Riaunews.com) – Kondisi antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Pulau Bengkalis mulai kembali normal setelah dua bulan terakhir masyarakat kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis subsidi Pertalite.

Meski demikian, warga masih dibayangi isu pembatasan penggunaan Pertalite untuk kendaraan dengan kapasitas mesin di atas 1.400 CC yang disebut akan mulai berlaku pada 1 Juni 2026.

Pantauan di sejumlah SPBU pada Jumat (22/5/2026), aktivitas pengisian BBM berlangsung normal tanpa antrean panjang kendaraan roda empat seperti yang sebelumnya dikhawatirkan masyarakat.

Di SPBU Selat Baru, Kecamatan Bantan, antrean kendaraan roda empat terlihat lengang sejak pagi hingga sore hari. Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Jalan Lembaga, Bengkalis, meski sempat mengalami kekosongan stok sementara sambil menunggu pasokan BBM masuk kembali.

Sementara itu, di SPBU Jalan Bantan, Desa Senggoro, pengisian BBM subsidi juga berjalan lancar. Penumpukan kendaraan roda dua masih terlihat, namun tidak separah kondisi antrean dua pekan lalu.

Pengelola SPBU Jalan Bantan, Ujang, mengatakan pasokan BBM dari PT Pertamina hingga saat ini masih berjalan normal sesuai kebutuhan SPBU.

“Pasokan BBM masih normal sesuai pesanan. Pada Kamis kemarin ada dua mobil tangki masuk dengan total sekitar 10 kiloliter. Sore Rabu juga kembali masuk sekitar 15 kiloliter,” ujarnya.

Menurutnya, penjualan BBM subsidi juga berlangsung seperti biasa tanpa lonjakan pembeli.

Warga Keluhkan Isu Pembatasan Pertalite

Terkait isu pembatasan pengisian Pertalite bagi kendaraan di atas 1.400 CC, pihak SPBU mengaku belum menerima informasi resmi dari Pertamina.

“Belum ada informasi resmi dari Pertamina terkait pembatasan kendaraan di atas 1.400 CC untuk mengisi Pertalite. Saat ini kami masih melayani seluruh kendaraan dengan syarat memiliki barcode MyPertamina sesuai nomor polisi kendaraan,” kata Ujang.

Meski kondisi antrean mulai membaik, masyarakat mengaku masih resah dengan berbagai isu kebijakan BBM yang dinilai menyulitkan.

Salah seorang warga Senggoro, Andi, mengaku khawatir jika pembatasan Pertalite benar-benar diberlakukan.

“Tak pernah tenang. Ada saja yang dibuat, mulai dari isu kenaikan harga, pembatasan, sampai aturan barcode bagi pengecer. Ini sangat menyulitkan masyarakat,” keluhnya.

Ia menilai kebijakan terkait distribusi BBM subsidi belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil, terutama warga di daerah kepulauan seperti Bengkalis.