Efek Insentif Rp12,8 Triliun, Konsumsi Ramadan dan Lebaran Diproyeksi Terdongkrak

Ekonomi & Bisnis109 Dilihat

Jakarta (RiauNews.com) – Pemerintah menggelontorkan insentif Ramadan dan Lebaran 2026 sebesar Rp12,8 triliun guna menjaga daya beli masyarakat di tengah lonjakan kebutuhan musiman. Kebijakan ini diproyeksikan memberi dorongan terhadap konsumsi rumah tangga dan memperkuat perputaran ekonomi daerah selama periode hari besar keagamaan.

Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati, menilai tambahan stimulus tersebut berpotensi menggerakkan sektor perdagangan dan jasa, terutama ketika beban belanja pangan masyarakat dapat ditekan melalui bantuan sosial dan potongan biaya transportasi. Menurutnya, pola konsumsi saat Ramadan dan Lebaran setiap tahun memang meningkat, sehingga intervensi fiskal dapat memperbesar dampak perputaran uang di daerah.

Ia menjelaskan, keringanan harga bahan pokok dan diskon perjalanan memungkinkan masyarakat mengalokasikan dana untuk kebutuhan lain. Kondisi itu dinilai mampu mendorong aktivitas usaha kecil dan sektor informal yang biasanya mengalami kenaikan permintaan pada periode tersebut.

Meski begitu, Anis mengingatkan bahwa efek stimulus bersifat jangka pendek. Peningkatan konsumsi selama musim Lebaran tidak otomatis menciptakan daya beli yang berkelanjutan apabila tidak diiringi perluasan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan.

“Stimulus ini dapat menjadi penopang sementara bagi konsumsi. Namun fondasi ekonomi tetap bergantung pada investasi, ekspor, dan stabilitas usaha,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa paket insentif Ramadan dan Idul Fitri 2026 mencakup bantuan beras dan minyak goreng, serta potongan tarif berbagai moda transportasi. Pemerintah berharap kebijakan tersebut mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal berjalan melalui peningkatan belanja masyarakat.

Komentar