Pahami dan Pertahankan Kemuliaan Ramadan

Seputar Islam110 Dilihat

Oleh Ummi Fatih

Ramadan memang bulan yang mulia. Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Umat manusia dapat beribadah dengan gembira tanpa godaan setan yang sedang diikat dalam neraka. Dengan demikian, dosa akan banyak dilelehkan, doa-doa mudah dikabulkan, dan pahala-pahala pun akan bertambah luar biasa.

Namun, sadarkah kita bahwa Ramadan tidak hanya sebuah agenda perang melawan hawa nafsu pribadi? Ada perang persenjataan api menahan aksi-aksi keji yang sudah seharusnya kita lakukan.

Rasulullah saw. bersabda:
Amalan puasa bukan hanya pada menahan diri dari makan dan minum, namun juga puasa itu menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan keji” (HR Ibnu Hibban)

Dalam perang badar yang berlangsung pada tanggal 17 Ramadan Hijriyah dahulu kala, misalnya. Rasulullah dan para sahabatnya yang sedang menunaikan ibadah puasa pun tidak mundur melawan kaum kafir yang zalim dan keji. Seorang mujahid Islam kala itu harus melawan tiga orang tentara kafir yang kuat dan bersenjata lengkap. Sebab perbandingan jumlah mereka antara sekitar 300 dan 900 orang.

Tubuh para mujahid terluka dengan berbagai tebasan. Darah mereka terus mengalir tanpa sempat dikompres dan diperban. Akan tetapi, mereka tetap bersemangat maju berlarian melawan para pasukan yang keji. Luar biasanya, tenggorokan kering mujahidin muslim yang berpuasa kala itu masih dapat semangat meneriakkan takbir dengan keras.

Salah seorang mujahid hebat yang telah terbukti dapat menahan nafsunya dalam perang badar Ramadan adalah Abu Ubaidah bin Al jarrah. Ia tidak langsung maju menyerang musuh dengan api kemarahan dan kepanikan.

Bahkan, ketika ia menghadapi ayah kandungnya yang berdiri dalam barisan pasukan kafir Quraisy. Abu Ubaidah pun justru selalu menghindari ayahnya agar tidak menusukkan pedang sang ayah. Ia mencari lawan lain yang akan dihunusnya. Namun, akibat sang ayah itu semakin mengejar dan menghantamnya, Abu Ubaidah pun terpaksa memenggalnya.

Keutamaan Ramadan

Rasulullah pernah bersabda:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, diwajibkan atas kalian berpuasa, Pada bulan itu dibukanya pintu surga, serta pintu-pintu neraka ditutup, Para setan dibelenggu, didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad, shahih)

Dari dalil itu, dapat kita ketahui bahwa para sahabat nabi pun semakin bersemangat juang melawan kaum kafir dan kezaliman di bulan Ramadan. Sebab mereka yakin bahwa kaum kafir itu sedang sendirian tanpa pertolongan setan. Dengan demikian, doa-doa mereka yang sedang berpuasa dan dizalimi tanpa henti akan segera Allah Swt. kabulkan. Sesuai janji Allah Swt. dalam hadist riwayat imam at Tirmidzi yang artinya:

Tiga kelompok orang yang doanya tidak tertolak, yaitu : orang yang berpuasa sampai berbuka puasa, pemimpin yang adil, serta doa orang yang sedang terzalimi” (HR.Tirmidzi)

Tak heran, Allah Swt. memberi pertolongan luar biasa untuk meraih kemenangan bagi umat Islam dalam perang badar tersebut. Dia telah mengirimkan pasukan malaikat kuat yang sayapnya mampu mencerai beraikan kaum kafir. Segenggam pasir yang dilemparkan ke mata kaum kafir oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya juga berhasil membuat mereka tidak bisa melihat dengan baik.

Lantas, ketika janji keberkahan Ramadan telah Allah Swt. buktikan dalam sejarah, apakah kita masih ragu untuk kembali maju? Sementara kaum kafir ternyata masih bergerak meluncurkan siksaan dan ancaman.

Tidak hanya di wilayah Palestina, di wilayah negeri Islam lainnya, serangan fisik kejam masih turut berjalan. Pengusiran paksa juga tak luput dari kegiatan para kaum kafir yang zalim.

Parahnya, kaum kafir saat ini juga meluncurkan serangan pemikiran busuk sehingga umat Islam menjadi tidak mengenali agamanya sendiri. Akibatnya, mereka dibuat lebih berkiblat pada pola pikir Barat yang rusak dan keji.

Bayangkan saja, puasa yang merupakan amalan wajib dalam bulan Ramadan, pada nyatanya sudah ramai tak ditunaikan. Atas nama hak asasi sekularisme kapitalisme Barat, warung-warung makanan dibiarkan tetap membuka pintunya dengan sajian makanan saat siang hari. Hasilnya, uang habis dan amalan utama sedekah Ramadan menjadi kritis.

Jika demikian, tidakkah lebih baik kita pilih untuk bersatu melawan semua kezaliman itu? Supaya berkah kita dapatkan dan kedamaian hidup bisa kita wujudkan.

Bersatu meraih keberkahan

Ketika persatuan masih sulit diikat. Umat Islam masih terpisah dengan berbagai serat nasionalisme maupun serat fanatisme golongan. Dakwah ideologis adalah amalan mulia yang insya Allah mampu menjadi anyaman penguatnya.

Sebab dengan dakwah ideologis itu kaum muslim diajak untuk berpikir dengan landasan kebenaran Islam secara kaffah. Mereka tidak hanya sekedar diarahkan mempelajari religiusitas peribadahan pada Tuhan, namun segala aturanNya yang sempurna. Mulai dari aturan kehidupan pribadi, sosial, ekonomi hingga perpolitikan akan dipahamkan sehingga umat mau untuk menerapkannya secara keseluruhan.

Akhirnya, marilah kita semakin semangat membuka mulut untuk dakwah ideologis di bulan Ramadan ini. Aroma kebenarannya akan membuat umat sadar hingga mereka tidak tersesat sehingga kezaliman akan berakhir selamanya.

Rasulullah pernah bersabda:
Demi zat yang jiwaku ada ditangannya, bahwasanya bau mulut orang yang sedang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari pada wangi minyak misk” (HR Bukhari & Muslim)

Komentar