New York (Riaunews.com) – Sejumlah mantan karyawan perusahaan kecerdasan buatan xAI menyoroti melemahnya aspek keselamatan dalam pengembangan model dan chatbot milik perusahaan tersebut. Sorotan ini muncul di tengah gelombang pengunduran diri dari tim teknis hingga pendiri bersama dalam beberapa waktu terakhir.
Mengutip laporan TechCrunch yang juga melansir The Verge, seorang mantan karyawan menyebut CEO xAI, Elon Musk, secara aktif mendorong agar chatbot Grok dibuat lebih longgar dari sisi pembatasan sistem pengaman. Pendekatan ini disebut memicu kekhawatiran internal terkait potensi penyalahgunaan teknologi.
Kritik terhadap aspek keselamatan menguat setelah chatbot Grok dilaporkan digunakan untuk membuat lebih dari satu juta gambar bernuansa seksual, termasuk manipulasi visual terhadap perempuan dan anak di bawah umur. Kasus tersebut memicu perhatian luas terhadap tata kelola dan pengendalian teknologi AI generatif.
Dalam pekan yang sama, diumumkan bahwa perusahaan antariksa SpaceX mengakuisisi xAI. Sebelumnya, xAI juga telah mengambil alih platform media sosial X. Setelah pengumuman itu, sedikitnya 11 insinyur dan dua pendiri bersama menyatakan keluar dari perusahaan.
Sebagian mantan karyawan menyatakan ingin membangun proyek baru, sementara Elon Musk menyebut perombakan tim merupakan bagian dari penataan organisasi agar lebih efektif. Selain isu keselamatan, sejumlah sumber internal menilai arah pengembangan produk xAI belum solid dan perusahaan masih berupaya mengejar ketertinggalan dari para kompetitor di sektor kecerdasan buatan.
Hingga kini, pihak xAI belum memberikan pernyataan resmi terkait kritik yang disampaikan para mantan karyawan tersebut.







Komentar