Tesla Hentikan Autopilot Standar, Dorong Penggunaan Full Self-Driving

Otomatif225 Dilihat

Texas (Riaunews.com) – Tesla memutuskan menghentikan sistem bantuan pengemudi dasar Autopilot yang selama ini menjadi fitur standar pada kendaraan listriknya. Langkah ini diambil untuk mendorong adopsi teknologi yang lebih canggih, yakni Full Self-Driving (FSD), di tengah tekanan regulasi yang semakin ketat di Amerika Serikat.

Keputusan tersebut muncul setelah pengadilan California menyatakan Tesla terbukti melakukan pemasaran menyesatkan dengan melebih-lebihkan kemampuan Autopilot dan FSD selama bertahun-tahun. Otoritas setempat bahkan mengancam penangguhan izin manufaktur dan dealer Tesla hingga 30 hari, dengan masa tenggang 60 hari agar perusahaan mematuhi putusan, termasuk menghentikan penggunaan nama Autopilot.

Di sisi lain, Tesla terus menguji teknologi otonomnya. Perusahaan mulai mengoperasikan robotaxi Model Y di Austin, Texas, tanpa petugas keselamatan di dalam kendaraan, meski tetap diawasi dari jarak jauh dan menggunakan versi perangkat lunak yang lebih maju.

FSD sendiri diluncurkan dalam versi beta pada akhir 2020, namun tingkat adopsinya masih tergolong rendah. Pada Oktober 2025, Kepala Keuangan Tesla Vaibhav Taneja mengungkapkan hanya sekitar 12 persen pelanggan Tesla yang bersedia membayar untuk fitur tersebut.

Meski demikian, FSD memiliki arti strategis bagi perusahaan. Target 10 juta pelanggan aktif FSD pada 2035 menjadi salah satu syarat utama bagi Elon Musk untuk menerima penuh paket kompensasi bernilai hingga 1 triliun dolar AS.

Autopilot yang diperkenalkan sejak awal 2010-an dan menjadi fitur standar sejak 2019, selama ini menuai kritik karena dinilai membingungkan publik soal keterbatasannya. Data Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA) menunjukkan kesalahpahaman atas kemampuan Autopilot berkontribusi pada ratusan kecelakaan dan sedikitnya 13 korban jiwa.

Komentar