Oleh Sri Lestari, ST
Bulan Rajab merupakan bulan yang istimewa. Keistimewaannya diindikasikan adanya moment Isra’ Mi’raj. Peristiwa Isra Mi’raj merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, melakukan perjalanan Isra (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mi’raj (diangkat ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha) untuk menerima perintah sholat lima waktu langsung dari Allah SWT.
Jika perjalanan Isra’ Mi’raj dikaitkan dengan hukum alam akan banyak sekali pertanyaan yang muncul. Namun momen Isra’ Mi’raj mengabaikan hukum alam, sehingga momen Isra’ Mi’raj merupakan momen yang menguatkan keimanan kaum muslim terhadap kebesaran Allah SWT. Isra’ Mi’raj menjadi peristiwa penting yang diperingati setiap tahun oleh kaum muslim.
Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak lama kemudian terjadi peristiwa baiat aqabah kedua. Baiat aqabah kedua yang dilakukan orang-orang Madinah, yang berjumlah 75 orang terdiri dari 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Dari pertemuan Rasulullah SAW dengan orang-orang Madinah memperlihatkan berpindahnya dakwah dari fase interaksi dengan umat, menuju fase tegaknya sistem Islam.
Dari momen baiat aqabah kedua juga telah memperlihatkan bahwa orang-orang Madinah rela dan ridho di pimpin oleh Rasulullah SAW dengan kepemimpinan Islam. Dimana mereka mau diatur dengan hukum-hukum Islam. Adanya baiat aqabah kedua juga menggambarkan bahwa Rasulullah SAW mendapat pertolongan untuk menerapkan hukum-hukum Islam di Madinah.
Setelah terjadi baiat aqabah kedua Rasulullah SAW dan kaum muslim hijrah dari Mekah ke Madinah dengan berbagai kisah yang heroik. Mulai dari ancaman dan persekusi fisik yang dilakukan orang-orang Quraisy, kaum muslim yang hijrah mereka rela dan ridho meninggalkan harta dan keluarga mereka yang masih kufur, saat hijrah mereka melalui perjalanan yang berbahaya dan memulai kehidupan baru di Madinah.
Dari banyaknya peristiwa di bulan Rajab, dapat kita artikan bahwa pada monent Isra’ Mi’raj tidak hanya sekedar sebagai momen spritual saja, namun juga menjadi momen menuju perubahan politik umat secara ideologis yang ditandai dengan hijrahnya Rasulullah dan para sahabat ke Madinah untuk menegakkan Daulah Islam yang menerapkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan mulai dari individu, masyarakat dan negara.
Tegaknya negara Islam pertama kali di Madinah yang di pimpin oleh Rasulullah telah memperlihatkan kepada kita bahwa Allah SWT mengutus Rasulullah SAW untuk mencontohkan peran pemimpin dalam Islam.
Dimana pemimpin dalam Islam berperan sebagai pengurus dan pelindung bagi rakyatnya. Pemimpinlah yang memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyatnya mulai dari sandang, pangan dan papan.
Setelah Rasulullah wafat kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib kemudian kepemimpinan Islam di lanjutkan oleh para Khalifah hingga terakhir di Turki Utsmani yang di runtuhkan oleh Mustafa Kamal Attaturk hingga saat ini kepemimpinan Islam tidak ada.
Setelah 105 tahun tidak adanya kepemimpinan Islam, kita dapat melihat berbagai persoalan hadir dari berbagai lini dan kehidupan rakyat semakin hari semakin memprihatinkan. Mulai dari terpecah belahnya umat Islam, sulitnya ekonomi, mahalnya pendidikan, mahalnya kesehatan, banyaknya bencana alam akibat dari ulah tangan manusia dan berbagai macam kerusakan lainnya.
Dari sini tampak jelas, bulan Rajab yang didalamnya ada peristiwa Isra’ Mi’raj harus kita jadikan momen untuk kembali pada hukum Allah agar terwujud kesejahteraan hidup.
Disamping itu kita juga harus menjadikan peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi moment untuk meningkatkan ketaqwaan kita dari seluruh aspek kehidupan, baik dalam habluminallah, habluminannafsih dan habluminannas.







Komentar