Jakarta (Riaunews.com) – Ketua CDCC Prof. Dr. M. Din Syamsuddin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia berada di titik rawan polarisasi sosial akibat menguatnya intoleransi dan politik identitas. Karena itu, dialog lintas iman dinilai menjadi penopang utama untuk menjaga persatuan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Din dalam konferensi pers Resonansi CDCC 2026 yang digelar di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (14/1/2026).
Menurut Din, polarisasi yang dibiarkan tanpa ruang dialog berpotensi melemahkan fondasi kebangsaan dan merusak kohesi sosial masyarakat.
“Dialog lintas iman hari ini bukan lagi pilihan normatif, tetapi kebutuhan strategis untuk menjaga persatuan bangsa,” ujar Din Syamsuddin.
Ia menegaskan bahwa kemajemukan merupakan kekuatan Indonesia yang harus dikelola melalui dialog terbuka, berkeadaban, dan berkesinambungan, dengan melibatkan negara, tokoh agama, serta masyarakat sipil.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan CDCC Prof. Dr. Didik J. Rachbini menyoroti ketidakpuasan sosial yang mengemuka sepanjang 2025. Ia menilai tekanan ekonomi yang dirasakan kelompok kelas menengah dan bawah turut memperbesar risiko polarisasi sosial.
“Stabilitas makro relatif terjaga, tetapi kualitas pertumbuhan belum inklusif. Ketimpangan ini menjadi sumber kegelisahan sosial,” kata Didik.
Sementara itu, Direktur Eksekutif CDCC Puti Hasanatu Syadiah memaparkan agenda CDCC 2026 yang difokuskan pada penguatan dialog lintas iman lintas negara dan generasi.
Agenda tersebut mencakup World Interfaith Harmony Week dan International Day of Human Fraternity pada Februari 2026, Dialog Pemuda Lintas Agama ASEAN di Timor Leste pada Mei 2026, serta Majelis Cendekiawan Madani Malaysia–Indonesia di Jakarta pada Agustus 2026.
Konferensi pers ini menandai dimulainya rangkaian Resonansi CDCC 2026 sebagai ruang konsolidasi gagasan kebangsaan di tengah tantangan polarisasi sosial dan ekonomi. (fit)







Komentar