Oleh Ummi Fatih
Dalam suatu reportase berita perayaan Natal Nasional di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta Pusat pada tanggal 5 Januari 2025, presiden Prabowo menyatakan perasaan yang sangat terharu terhadap rakyatnya. Sebab, hasil survei GFS(Global Fluirishing Survey ) telah menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat paling bahagia di dunia karena mau untuk hidup sederhana.(Kompas.com 5/1/2026)
Walaupun, rasa haru tersebut tampaknya baik. Namun tidakkah sang pemimpin negara Indonesia itu sadar bahwa survei tersebut mengandung konsep bermasalah yang tidak layak untuk dijadikan cermin kebanggaan? Sebab, kebahagiaan hidup masyarakat adalah buah dari perasaan yang berbeda kadarnya bagi setiap orang.
Dalam survei itu terdapat lima standar utama penentuan tingkat flourishing yang dikatakan tidak berakar dari faktor ekonomi. Lantas, karena standar tersebut adalah buatan manusia biasa, maka setiap standar itu harus kembali diteliti ulang.
Metode Survey yang Rapuh dan Tumpul
Pertama, berupa standar kebahagiaan dan kepuasan hidup. Hal tersebut sangatlah meragukan jika dijadikan standar surveinya. Sebab, survei hanyalah aktivitas pengumpulan data pada beberapa orang bukan semua orang, sehingga survei belum memiliki suatu kepastian. Jika kalangan yang disurvei secara kebetulan memang orang yang bahagia, apakah berarti semua orang memang merasakan kebahagiaan yang serupa?
Jawabannya adalah tidak. Pasalnya, dalam contoh pemberian fasilitas pendidikan yang pemerintah berikan, kualitasnya justru sangat lebih rendah daripada sekolah swasta. Akibatnya, generasi masyarakat yang menerimanya tidaklah merasakan kepuasan hidup sederhana. Namun, lebih karena unsur terpaksa. Sebab, hak meraih pendidikan tidak diberikan secara merata.
Kedua, standar kesehatan mental dan fisik. Jika masyarakat Indonesia dinyatakan telah merasa bahagia karena mau hidup sederhana. Apakah program-program buatan pemerintah selama ini merupakan kemauan sederhana rakyat yang murni?
Misalnya, dalam program BPJS yang sudah berulang kali rakyat menolak dan mengkritisinya. Mereka tak segan lagi melakukan aksi demonstrasi atas ketidakbijaksanaan program tersebut.
Selain itu, tanggung jawab pemerintah dalam pemberian asupan makanan gratis berlabel MBG bagi para generasinya juga harus diperhatikan. Jadwal makan yang hanya sekali bukan tiga kali sehari dengan kualitas makanan yang beracun dan tidak bergizi membuat kesederhanaan hidup kembali bernuansa paksaan yang tidak membahagiakan. Dengan begitu, hasil survei flourishing juga tidak layak untuk menjadi acuan kebanggaan.
Ketiga, makna dan tujuan hidup. Ketika ideologi sekularisme liberal dianut oleh negara, maka kebebasan hidup adalah targetnya. Oleh karena itu, masyarakat akan merasa bebas melakukan apa saja tanpa memandang dampaknya di masa depan.
Aturan hidup yang berlaku kurang adil dan tegas mengarahkan masyarakat pada jalur kebenaran. Nafsu dan keinginan duniawi lebih dituruti. Padahal, mereka seharusnya sudah diberitahu bahwa dunia hanya sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan abadi selamanya.
Keempat, karakter dan keutamaan moral. Standar ini sangatlah jauh dari fakta sederhana yang membahagiakan. Sebab, karakter masyarakat saat ini cenderung tidak bermoral.
Apabila dikaitkan dengan tujuan hidup liberal tadi, Nilai kemanusiaan yang sederhana sudah jauh dari makna para generasi penerus bangsa. Hasilnya peradaban bangsa Indonesia seharusnya lebih layak ditangisi dan diubah bukan justru dibanggakan oleh sang penguasa.
Bagaimana tidak, ketika gaya hidup tak bermoral seperti kumpul kebo dibiarkan dengan dalih kebebasan hak individu. Maka, kesederhanaan nafsu yang membahagiakan akan menghilang. Generasi muda tidak dapat menjadi tonggak peradaban bangsa.
Kelima, hubungan sosial yang erat. Dalam masa digitalisasi kehidupan, masyarakat lebih banyak berkomunikasi lewat dunia Maya tanpa perjumpaan langsung untuk penjelasan maksud yang lebih dalam. Sehingga kesalahpahaman sering terjadi, kemudian berujung pada pisau kebencian, pertengkaran hingga pembunuhan di dunia nyata yang saat ini sudah banyak menjadi suguhan fakta berita.
Jika demikian, apakah pemerintah akan tetap membiarkan rakyat hidup berfoya-foya dengan membeli kuota paket internet untuk hubungan sosial dunia Maya yang tidak berkualitas? Padahal, hal itu tidak memiliki makna kesederhanaan sosial yang membahagiakan?
Individu akan Bahagia Apabila Mengenal Tuhannya
Dari koreksi lima standar survei tersebut, standar kebahagiaan yang menggunakan trik atau metode buatan manusia sangatlah lemah. Dengan kata lain, standar buatan manusia tidak baik dan layak untuk digunakan sebagai acuan.
Kebahagiaan adalah perasaan. Sedangkan perasaan adalah buatan Tuhan. Oleh karena itu, satu-satunya trik atau metode memaknai keseragaman kebahagiaan yang benar hanyalah trik dan metodeNya.
Dengan semakin, masyarakat harus dididik untuk lebih mengenal Allah Swt. sejak dini. Supaya mereka memahami bahwa Allah Swt maha mengetahui segala yang terbaik bagi hambaNya.
Kemudian, mereka pun akan menjadikan ridha Allah Swt. sebagai tujuan hidupnya. Akibatnya, saat ketentuan rezekiNya naik atau turun, si hamba itu pun tetap sabar dan bersyukur. Kesederhanaan hidup tetap rela dipilihnya.
Selanjutnya, negara juga harus selalu membuat benteng kesederhanaan yang kuat melalui peraturan hukum ala tuhan. Berbagai kebijakan yang pemerintah buat harus tegas menggiring masyarakat untuk taat bukan bebas semaunya dan tak bermanfaat.
Akhirnya, kesederhanaan murni dapat dilakukan dan dibanggakan. Sebab masyarakat sudah diberi standar kebahagiaan yang sama, yakni meraih ridha Allah Swt. Penguasa negara pun sudah menyadari tanggung jawabnya untuk menjalankan semua petunjuk kebenaran Tuhan yang pasti membahagiakan dan menyejahterakan.







Komentar