Jakarta (Riaunews.com) – Fenomena drama China (dracin) kian diminati penonton global, termasuk di Indonesia. Salah satu tema yang paling populer adalah kisah CEO kaya raya yang menikahi perempuan miskin, meski belakangan tema tersebut disebut-sebut mulai dibatasi oleh pemerintah China.
Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, menilai daya tarik dracin terletak pada cerita yang ringan, sensasional, dan mudah dicerna. Tema yang diangkat dekat dengan fantasi keseharian penonton, seperti orang miskin yang ternyata CEO, ayah sederhana yang diam-diam direktur utama, hingga pernikahan mendadak dengan bos besar.
“Judul-judulnya sangat menggoda, seperti Suamiku Ternyata CEO atau Satpam yang Ternyata Raja CEO. Ini efektif menyedot perhatian di tengah persaingan konten yang sangat padat,” kata Rhenald melalui akun Instagram-nya, Minggu (11/1/2025).
Ia juga menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam mempercepat adaptasi drama China ke berbagai negara. Teknologi ini memungkinkan sulih suara dengan bahasa lokal, termasuk penggantian nama tokoh agar lebih dekat dengan budaya penonton setempat.
Lebih jauh, Rhenald menyebut industri drama China telah berkembang menjadi mesin ekonomi besar. Banyak penonton rela membayar Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per minggu untuk menonton drama pendek berformat episode singkat. Total pendapatan industri ini disebut telah mencapai sekitar Rp156 triliun, bahkan melampaui pendapatan bioskop Amerika Serikat dan Kanada.
Menurutnya, kesuksesan tersebut didukung pemanfaatan data dan AI untuk membaca perilaku penonton yang memiliki rentang perhatian pendek. Episode berdurasi sekitar lima menit disajikan bersambung, sehingga penonton harus membayar untuk mengetahui kelanjutan cerita, sekaligus memunculkan potensi perubahan pola konsumsi dan budaya di berbagai negara.







Komentar