Jakarta (Riaunews.com) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai lemahnya daya beli masyarakat masih akan menjadi tantangan utama perekonomian Indonesia hingga 2026. Kondisi tersebut tercermin dari tekanan inflasi yang tetap rendah dan belum didorong oleh peningkatan permintaan riil masyarakat.
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Pihri Buhaerah, menjelaskan rendahnya inflasi bukan menandakan kondisi ekonomi yang kuat, melainkan mencerminkan daya beli yang belum pulih. Fenomena masyarakat ramai datang ke pusat perbelanjaan namun minim belanja, atau dikenal dengan istilah rombongan jarang beli (rojali), masih menjadi indikator nyata.
Menurut Pihri, rojali bukan sekadar perilaku konsumsi, melainkan bagian dari rangkaian tekanan di sektor riil. Pelaku usaha merespons pelemahan daya beli dengan diskon, namun ketika penjualan tetap lesu, langkah efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) tak terhindarkan.
“Inflasi di bawah 3 persen saat ini bukan karena permintaan tinggi, tetapi karena daya beli lemah. Rojali justru menjadi cerita pertengahan dari spiral deflasi,” ujarnya dalam Economic Outlook 2026, Senin (22/12/2025).
BRIN memperkirakan, meski inflasi pada 2026 berpotensi naik ke kisaran 2,6–3,2 persen, pemulihan daya beli tidak otomatis mengikuti. Tekanan sosial ekonomi akibat PHK dan ketidakpastian pendapatan rumah tangga masih berpotensi menahan konsumsi masyarakat.
Dengan kondisi tersebut, BRIN menilai fenomena rojali masih akan terlihat pada tahun depan. Pemulihan ekonomi dinilai perlu difokuskan tidak hanya pada stabilitas harga, tetapi juga pada penguatan pendapatan dan lapangan kerja agar konsumsi masyarakat benar-benar bergerak.
