Jakarta (Riaunews.com) – CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, memaparkan sejumlah faktor yang dapat memicu kebakaran pada mobil listrik, terutama yang berkaitan dengan proses pengisian daya dan kondisi lingkungan sekitar kendaraan. Penjelasan ini disampaikan menyusul peristiwa kebakaran di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (18/12/2025) malam, yang diduga melibatkan mobil listrik dan menelan korban jiwa.
Kariyanto menjelaskan, kebakaran tersebut diduga bermula dari gangguan kelistrikan saat pengisian daya. Percikan api atau ledakan kecil kemudian menyambar bahan mudah terbakar seperti thinner dan cat yang berada di sekitar kendaraan. Kondisi ruang yang sempit turut mempercepat penyebaran api.
Ia menyoroti pentingnya standar keselamatan pada perangkat pengisian daya. Menurutnya, penggunaan soket dan charger yang tidak bersertifikat atau tidak sesuai spesifikasi sangat berisiko, mengingat proses pengisian daya mobil listrik melibatkan tegangan tinggi. Kesalahan instalasi dapat menyebabkan panas berlebih pada baterai.
Risiko tersebut semakin besar jika pengisian daya dilakukan di ruang terbatas dengan ventilasi buruk. Dalam kondisi seperti itu, sistem pendinginan baterai tidak bekerja optimal, sehingga potensi ledakan dan kebakaran meningkat.
Kariyanto juga menilai karakteristik bangunan di lokasi kejadian memperparah situasi. Banyak rumah toko (ruko) menjadikan garasi sebagai gudang, sementara akses keluar terbatas dan dilengkapi teralis, sehingga menyulitkan proses evakuasi saat api membesar.
Ia menegaskan, pemilik kendaraan perlu memahami bahwa teknologi mobil listrik masih terus berkembang dan memiliki karakteristik berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar bensin. “Teknologi mobil listrik belum sematang mobil konvensional yang sudah berkembang lebih dari 100 tahun, sehingga aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama,” pungkasnya.
