Gaza (Riaunews.com) – Militer Amerika Serikat disebut tengah merancang pembagian Gaza dalam jangka panjang menjadi dua wilayah, yakni zona hijau dan zona merah. Zona hijau akan berada di bawah kendali militer Israel dan pasukan internasional, dengan prioritas percepatan rekonstruksi. Sementara itu, zona merah akan dibiarkan dalam kondisi rusak parah tanpa rencana pembangunan kembali.
Menurut laporan The Guardian, Selasa (18/11/2025), pasukan asing bersama tentara Israel direncanakan ditempatkan di bagian timur Gaza dengan garis pemisah berupa “garis kuning”. Seorang pejabat AS menyebut bahwa upaya menyatukan kembali Gaza masih berupa aspirasi dan memerlukan waktu panjang. “Hal itu tidak mudah diwujudkan,” ujarnya.
Rencana tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai komitmen Washington terhadap pembentukan pemerintahan Palestina di Gaza. Pendekatan Amerika Serikat disebut berubah-ubah, seiring rangkaian kebijakan improvisatif terkait penyelesaian konflik di wilayah itu.
Sebelumnya, Washington pernah bermaksud membangun kawasan khusus bagi warga Palestina yang disebut alternative safe communities (ASC). Namun, pemerintahan Presiden AS Donald Trump secara tiba-tiba membatalkan rencana tersebut, memunculkan ketidakpastian baru dalam strategi rekonstruksi Gaza.
Tanpa kehadiran pasukan perdamaian internasional, sejumlah mediator memperingatkan bahwa Gaza berisiko terperosok dalam kondisi “bukan perang tetapi tidak damai”. Kekosongan keamanan dan ketidakjelasan arah politik dinilai dapat memperpanjang siklus instabilitas di wilayah tersebut.
Hingga kini, kondisi Gaza tetap kritis dengan lebih dari 80 persen infrastruktur hancur. Hampir seluruh sekolah dan rumah sakit tidak berfungsi, sementara sebagian besar warga terpaksa bertahan di zona merah tanpa kepastian masa depan. Situasi ini membuat Gaza terus terjebak dalam ketidakpastian di tengah tarik-menarik kepentingan geopolitik dan belum adanya peta jalan rekonstruksi yang jelas.
