Bullying Bukan Lagi Sekadar “Candaan”, Apa yang Terjadi?

Opini, Sosial227 Dilihat

Oleh Sri Lestari, ST

Lagi lagi berita mengejutkan dari dunia pendidikan. Tepat pada Jumat, 31 Oktober 2025, asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah—pimpinan Tgk. Masrul Aidi—di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, terbakar. Dari kebakaran ini kerugian yang dialami ponpes mencapai 2 Miliar. Dari penyelidikan kasus ini, polisi mengungkap ponpes telah dibakar oleh salah satu santrinya yang masih dibawah umur. Dari keterangan, pelaku membakar gedung asrama karena selama ini pelaku sering di bullying oleh beberapa temannya.

“Pelaku mengaku membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya,” kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, saat konferensi pers di Meuligoe Rastra Sewakottama, Kamis (6/11).

Dari keterangan santri yang membakar Ponpes, selama ini santri tersebut merasa tertekan secara mental sehingga punya niat untuk membakar gedung agar barang-barang milik temannya yang diduga sering mengganggunya ikut habis terbakar.

Berita mengejutkan juga datang dari SMA 72 Jakarta Utara. Tepat pada Jum’at siang terjadi insiden ledakan di SMA 72 di Jalan Prihatin Nomor 87, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Menurut keterangan saksi, ledakan terjadi karena adanya indikasi dari salah seorang siswa yang ingin bunuh diri karena selama ini merasa di bullying hingga tertekan. Saksi juga mengatakan sebelum terjadi ledakan, siswa tersebut suka menyendiri dan suka menggambar ektremisme seperti teroris, Amerika Serikat dan menyukai video perang.

Bullying yang mewarnai generasi sudah terjadi di berbagai daerah. Fakta ini menggambarkan bahwa bullying merupakan persoalan yang butuh perhatian dan penuntasan yang nyata. Bullying bukanlah persoalan ringan yang dapat dipandang dengan sebelah mata. Jika kita cermati secara mendalam, maraknya bullying di dunia generasi bukanlah persoalan yang berdiri sendiri namun bullying merupakan persoalan yang dipengaruhi oleh berbagai hal seperti media sosial dan sistemik pendidikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa bullying merupakan persoalan sistemik dalam dunia pendidikan.

Mudahnya generasi dalam mengakses media sosial telah memberikan banyak pengaruh kepada generasi. Media sosial tanpa filtrasi saat ini dapat memperparah pelaku aksi bullying. Terkadang generasi menjadikan media sosial sebagai rujukan untuk melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain dalam bentuk pelampiasan kemarahan dan dendam. Selain itu terkadang generasi mendapatkan inspirasi bullying dari media sosial, yang lebih parahnya bullying saat ini dijadikan bahan candaan. Dari sini menggambarkan telah terjadi krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan untuk mencetak generasi yang beradab.

Maraknya persoalan bullying yang mewarnai generasi, kita dapat melihat bahwa generasi saat ini krisis adab dan tidak kuat mental. Tentu persoalan ini sangat berhubungan dengan sistem pendidikan yang ada saat ini. Sistem pendidikan sekuler yakni sistem pendidikan yang memisahkan antara agama dan kehidupan hanya berfokus pada pembentukan intelektualitas generasi namun tidak membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam. Dari sistem pendidikan seperti ini menjadi kewajaran jika lahir generasi yang tidak takut dosa ketika melakukan perbuatan menghilangkan nyawa, menyakiti hati sesama dan generasi yang menonjol dalam intelektualitasnya namun kosong akan adabnya. Dari sini tampak jelas bahwa sistem pendidikan saat ini gagal dalam membentuk generasi unggul dan bermartabat.

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang berlandaskan pada akidah Islam. Secara fitrah umat Islam dalam berbuat harus berlandaskan pada akidah Islam. Apalagi di negeri ini mayoritas muslim, seharusnya menjadikan akidah Islam sebagai sumber rujukan dalam seluruh aktivitas kehidupan. Hasil dari sistem pendidikan Islam adalah lahirnya generasi yang memiliki pola sikap dan pola pikir yang Islam, tanpa mengabaikan intelektualitas para terdidik. Pengaruh dari sistem pendidikan Islam adalah membuat generasi selalu terikat dengan hukum Syara’.

Dari sistem pendidikan Islam akan terbentuk ketaqwaan yang tinggi sehingga tidak ada generasi korban pelaku bullying. Mereka akan takut untuk melakukan tindakan bullying, tindak kejahatan dan tindakan buruk lainnya. Generasi akan merasa selalu diawasi oleh Sang Pencipta. Sistem pendidikan Islam tidak akan terwujud jika sistem Islam belum ada, seperti saat ini maka satu satunya langkah awal adalah mewujudkan kembali kehidupan Islam seperti masa lalu.

Kita bisa melihat sejarah ketika sistem Islam menguasai dunia. Islam menjadi peradaban mandiri dan sistem pendidikannya menjadi rujukan peradaban lainnya. Dari sistem pendidikan Islam telah lahir banyak penemu diantanya adalah Ibnu Sina (pakar kedokteran), al-Khawarizmi (pakar matematika), Al-Idrisi (pakar geografi), Az-Zarqali (pakar astronomi), Ibnu al-Haitsam (pakar fisika), Jabir Ibnu Hayyan (pakar kimia) dan lainnya.

Dengan demikian tidak ada cara lain agar pembullyan tidak terjadi, maka harus merubah sistem pendidikan kapitalis dengan sistem pendidikan Islam. Ketaqwaan dan intelektualitas generasi akan membuat mereka selalu melihat perbuatannya dibolehkan atau tidak. Ketaqwaan akan menjadi landasan ketika akan melakukan perbuatan.

Komentar