Jakarta (Riaunews.com) – Derasnya arus merek otomotif asal China di pasar Indonesia mulai menggoyang dominasi lama pabrikan Jepang. Sejumlah dealer Honda dan Mitsubishi kini terpaksa berganti logo, menandai pergeseran besar dalam peta persaingan industri otomotif nasional.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai fenomena ini mencerminkan perubahan lanskap kompetitif yang makin ketat. “Brand Jepang menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan dominasi mereka karena kehadiran brand China yang menawarkan harga kompetitif, fitur canggih, dan desain inovatif dengan value for money tinggi,” ujarnya, Sabtu (2/11).
Beberapa dealer Honda di berbagai daerah, seperti di Jemursari (Surabaya), Pasteur (Bandung), Triputra Bekasi, dan Trimegah BSD, kini sudah berganti logo menjadi milik jenama China seperti Chery dan BYD. Perubahan serupa juga terjadi pada dealer Mitsubishi di Cinere, Jawa Barat, yang kini dikuasai brand Chery. Pergantian ini terjadi karena penurunan minat beli terhadap mobil Jepang, membuat operasional dealer tidak lagi menguntungkan.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan, sepanjang 2025, distribusi mobil dari pabrikan Jepang ke dealer (wholesales) mengalami tren menurun. PT Honda Prospect Motor (HPM) mencatat pengiriman hanya 46.623 unit sepanjang tahun ini, turun 32,7 persen (YoY) dibanding periode sama 2024 yang mencapai 69.320 unit. Mitsubishi pun mengalami penurunan 9,7 persen, dengan total pengiriman 48.944 unit, turun dari 54.207 unit pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, mobil asal China justru menunjukkan lonjakan signifikan. “Tren penjualan mobil China naik hingga lebih dari 350 persen YoY pada Juli 2025,” ungkap Yannes. Menurutnya, dealer kini mulai melirik potensi profit yang lebih besar dari penjualan EV murah (mobil listrik terjangkau) yang menjadi andalan brand China.
“Efek ini pelan tapi pasti akan menjadi ‘virus’ yang menulari cara pandang dealer konvensional. Mereka mulai melihat prospek bisnis yang makin suram jika tetap bertahan dengan APM lama tanpa adanya pembaruan signifikan,” pungkas Yannes.
