Pengamat ITB: Industri Otomotif Harus Adaptif Hadapi Era VUCA

Otomatif146 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Perubahan cepat di pasar otomotif global dinilai mencerminkan kondisi VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous) yang menuntut para pelaku industri untuk meninjau ulang strategi lama. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama dalam mempertahankan relevansi dan daya saing di tengah ketidakpastian pasar.

“Pergeseran ini merupakan evolusi pasar yang mengalami VUCA, di mana semua pelaku usaha otomotif harus berpikir ulang terhadap asumsi lama yang mereka yakini, lalu segera beradaptasi dengan cepat dan mengambil keputusan strategis di tengah ketidakjelasan yang merebak,” ujar Yannes kepada ANTARA, Sabtu (1/11/2025).

Menurutnya, pelaku industri otomotif harus memiliki kejelian tinggi agar tidak terjebak pada strategi konvensional. Mereka dituntut untuk peka terhadap perubahan perilaku konsumen, kebijakan pemerintah, serta kemajuan teknologi seperti elektrifikasi dan digitalisasi sistem kendaraan. “Brand yang gagal membaca dinamika ini, walau dulunya dominan, akan segera kehilangan relevansinya jika tidak segera berubah,” jelas Yannes.

Ia menambahkan, fenomena kehilangan dominasi bukan hal baru dalam dunia bisnis. Sejarah mencatat, merek-merek besar seperti Kodak dan BlackBerry runtuh karena gagal bertransformasi menghadapi perubahan zaman. Hal serupa dapat terjadi pada produsen otomotif yang enggan berinovasi atau terlambat merespons arah pasar.

Melihat tren saat ini, Yannes menilai bahwa kemampuan berinovasi, membaca arah pasar, dan mengambil keputusan berbasis data menjadi faktor penentu keberlangsungan industri otomotif di tengah arus VUCA yang semakin deras. “Brand yang mapan runtuh bukan karena dosa masa lalu mereka, tapi karena terlena dalam comfort zone-nya,” ujar dia.

Ia menegaskan bahwa satu-satunya hal yang abadi dalam dunia bisnis adalah perubahan itu sendiri. “Di tengah arus VUCA ini, keabadian hanya dimiliki oleh mereka yang mau terus berubah dan beradaptasi dengan rendah hati, penuh kesadaran, dan tanpa ilusi kejayaan abadi,” tutup Yannes.