Jakarta (Riaunews.com) – Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi memaparkan sejumlah strategi yang bisa diterapkan pemerintah daerah (Pemda) untuk meningkatkan produksi bawang merah dan cabai merah. Rekomendasi tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Selasa (23/9/2025).
Menurut Suwandi, strategi yang diusulkan terbagi dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang. “Ini merupakan solusi menumbuhkan kawasan baru dan memperluas yang ada,” ujarnya.
Untuk jangka pendek, Pemda diminta memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) terhadap harga, pasokan, panen, serta kondisi cuaca berdasarkan informasi BMKG. Selain itu, distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit harus diperkuat, termasuk melalui kerja sama antar daerah dan petani champion di wilayah sentra.
Suwandi juga menekankan pentingnya pengawalan distribusi sarana produksi (saprodi) hingga ke tahap pertanaman bawang merah dan cabai. “Bersama tim teknis dan daerah mengawal distribusi saprodi sampai dengan pertanaman benih,” jelasnya.
Dalam jangka menengah dan panjang, strategi yang disarankan mencakup perluasan lahan tanam, pengembangan sentra baru, pembagian benih, pembangunan kebun bibit, cold storage, serta jaringan distribusi. Program bimbingan teknis, pelatihan, sistem magang, hingga menghadirkan petani champion ke sentra baru juga menjadi bagian penting.
Lebih lanjut, hilirisasi bawang merah dan cabai melalui produk kering, sachet, maupun olahan dinilai bisa mengurangi ketergantungan pada konsumsi segar. Sementara untuk jangka panjang, Kementan mendorong gerakan tanam cabai dan bawang di pekarangan rumah serta kelompok dasawisma dan wanita tani. “Gerakan menanam di perkarangan ini bisa menjadi salah satu solusi apalagi melibatkan para ibu-ibu,” tutup Suwandi.
