Batam (Riaunews.com) – Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, meresmikan pabrik solder ramah lingkungan pertama di Indonesia yang berlokasi di kawasan Tunas Industrial Estate, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (10/7). Fasilitas ini dikelola PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha dari Arsari Tambang.
“Pabrik ini bukan hanya realisasi investasi, tapi juga bentuk komitmen terhadap hilirisasi. Dari 28 komoditas yang kami dorong untuk hilirisasi, timah adalah salah satu yang strategis,” kata Todotua dalam sambutannya.
Pabrik STANIA dibangun di atas lahan seluas 6.500 meter persegi dan mampu memproduksi hingga 2.000 ton solder bar per tahun. Ke depan, kapasitas produksi ditargetkan meningkat hingga 16.000 ton per tahun, mencakup produk solder wire, powder, dan paste, dengan proyeksi pendapatan mencapai Rp1 triliun.
Komisaris Utama Arsari Tambang, Hashim S. Djojohadikusumo, menyatakan bahwa satu lini produksi saat ini menyerap 80 tenaga kerja. “Kalau kebutuhan meningkat, akan kita kembangkan sampai empat lini,” ujarnya.
Pabrik ini mengusung prinsip keberlanjutan, dengan seluruh operasional menggunakan energi baru terbarukan (EBT) dari PLN yang disertifikasi Renewable Energy Certificate (REC). Desain bangunan juga dirancang untuk memaksimalkan pencahayaan alami demi efisiensi energi.
Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo, menegaskan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan. “Kami ingin membuktikan bahwa industri pertambangan juga bisa menjadi pelopor keberlanjutan,” katanya.
Dari sisi pasokan, STANIA telah meneken Head of Agreement (HoA) dengan PT Freeport Indonesia untuk pengadaan timbal dan perak. Selain itu, kerja sama ekspor juga dijalin dengan Volex, perusahaan global penyedia solusi konektivitas.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyambut positif kehadiran pabrik tersebut. “Kami siap mendukung setiap investasi yang membawa manfaat besar bagi masyarakat, terutama di kawasan strategis seperti Kepri,” ujarnya.







Komentar